Translate

Makna Dibalik Kegagalan

Kata “Gagal” seringkali diartikan peyoratif/negatif, tak ayal balutan serta bungkusan yang menyelimuti kita ditopang dengan beragam cara. Apapun itu, yang penting kita jauh dengan kata “gagal”. Namun apa makna dibalik kegagalan...

Bukan Mengelola Waktu, Tetapi Mengelola Energi

Saat ini mengelola waktu menjadi tren tersendiri dari kita. Bahkan hidup di era digital seperti ini, mengelola waktu bukan saja menjadi prioritas utama tetapi lebih dari itu. Namun banyak dari kita yang hidupnya mati-matian untuk mengelola waktu tetapi...

Implikasi Putusan Praperadilan Kasus BG, Bukti Nyata Hukum Indonesia Tak Jelas

Pasca putusan praperadilan perkara penetapan kasus tersangka BG yang diajukan oleh KPK dalam kasus korupsi, opini pun berhembus seperti terpecah belah dua dalam dunia hukum. Di tambah lagi beragam opini.....

Adonis, Sastrawan Arab Paling Kritis

Adonis merupakan penyair Arab yang paling berpengaruh di abad ke-20. Karya sastra modernisnya sangat berpengaruh terhadap dampak budaya Arab.....

Lintasan Sejarah Komunisme di Dunia Islam

Persinggungan antara komunisme di barat maupun di wilayah timur, terkhusus di Dunia Islam terdapat titik persamaan konseptual yaitu menolak terhadap kolonialisme barat. Seperti yang kita ketahui, hampir rata-rata di dunia Islam paruh abad 18-19-an, telah terjadi pergeseran antar ideologi.

Showing posts with label Biografi. Show all posts
Showing posts with label Biografi. Show all posts

Friday, 22 April 2016

Perjalanan “Keadilan Perempuan” di Hari Kartini


Siapa yang tak kenal Kartini, ia dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional yang gigih memperjuangkan konsep emansipasi perempuan pada abad 19-an. Ia juga menjadi inspirator dikalangan aktivis kesetaraan gender. Tokoh yang terlahir pada tanggal 21 April 1879 di Kota Jepara ini, kemudian dikukuhkan sebagai Hari Kartini, tak lain untuk menghormati jasa-jasanya sebagai pahlawan bangsa.

Jauh sebelum itu, proses perjuangan panjang Kartini bisa dilihat jelas ketika berusia sekitar 24 tahun, dimana Kartini menuangkan sebagian curahan hati tentang diskriminasi dan protes terhadap budaya patriarki kala itu. Lewat kumpulan nota-nota atau surat tersebut juga menjadi awal mula lahirnya buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” (door duisternis tot licht). Menurut sejarawan Asvi, dua nota yang dikirimkan Kartini kepada Menteri Jajahan, AWF Indenburg dan Gubernur Jenderal Hidia Belanda, Willem Rooseboom, pada tahun 1903. Saat itu menteri Idenburg tengah mempersiapkan undang-undang Pendidikan bagi negeri Jajahan. Kartini diberi pertanyaan seputar pendidikan bagi perempuan Jawa; Tindakan apa yang cocok untuk membuat bangsa Jawa lebih maju dan lebih sejahtera? Ke arah mana pengajaran harus diperbaiki dan diperluas? Jawaban kartini sangat tajam, “orang Belanda suka menertawakan dan mengolok-olok kebodohan bangsa kami, tetapi kalau kami mau belajar mereka menghalang-halangi dan mengambil sikap memusuhi kami…”. (Asvi WA, Menguak Misteri Sejarah, Kompas, 183-185).

Belum lagi curahan hati tentang ketidakadilan keluarganya ketika ia dipingit, dijodohkan dan tidak boleh ikut sekolah kejenjang yang lebih tinggi, menjadi pengalaman pahit rentetan diskriminasi baginya. Seperti yang tergambarkan dalam buku Armijn Pane (penj), Habis Gelap Terbitlah Terang, dikatakan:

Ketika masa sekolah, kartini merasa menjadi seorang yang bebas, ketika sudah berumur 12 tahun tiba-tiba ia dipaksa dipingit (ditutup akses) interaksi. Sahabt-sahabtnya orang belanda, mencari Kartini supaya ia jangan dipingit, tetapi usaha tersebut sia-sia. Orang tua kartini memegang adat memingit dengan teguh, meskipun dalam hal-hal lain sudah maju, bahkan sebenarnya keluarga yang termaju di Pulau Jawa. Empat tahun lamanya kartini tiada diizinkan keluar-keluar. Tetapi, semangat zaman tiada dapat diulangi. Sahabt-sahabat orang erapo tiada berhenti-henti beriktiyar, supaya kartini diberi kemerdekaannya kembali, maka waktu sudah berumur 16 tahun (1895), bolehkan dia melihat dunia luar lagi. Enam bulan kemudian diizinkan pula keluar sekali lagi kemudian dipingit lagi tetapi baru dalam tahun 1889 diberi kemerdekaan dengan officieel, bahkan diizinkan turu bepergian ke luar tempat tinggalnya. Sudah tentu mendapat celaan dari orang banyak. Tetapi kartini belum puas, dia hendak berdiri sendiri, supaya tak usah nikah.”

Cerita di atas memperlihatkan betapa kerasnya arus diskriminasi lahir kala itu. Frame diskriminasi bisa lahir dari sistem maupun sub sosial-budaya-agama. Jika kita melihat lebih dalam, sebetulnya Kartini menginginkan perempuan mendapat perlakuaan yang adil seperti orang Hindia Belanda kala itu, karena baginya, keadilan merupakan tujuan dari perjuangan untuk mencapai segalanya.

Bagaimana dengan Kondisi sekarang?

Menurut data BPS (badan pusat statistik), tercatat pada tahun 2014 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 252 juta jiwa. Dengan sex ratio sebesar 101,01, menunjukkan bahwa jumlah penduduk laki-laki masih sedikit lebih besar dibanding dengan penduduk perempuan. Komposisi jumlah penduduk laki-laki yang lebih dominan dari perempuan hampir terjadi pada semua kelompok umur, kecuali usia tua yaitu 65 tahun ke atas. Menurutnya juga, jenis kelamin masih sering digunakan sebagai persyaratan dalam pembagian kerja. Laki-laki memiliki kewajiban untuk mencari nafkah dan bekerja, sedangkan perempuan memiliki kewajiban untuk mengurus rumah tangga. Selain itu, laki-laki dianggap memiliki fisik yang kuat yang menyebabkan laki-laki memiliki peluang lebih tinggi untuk mendapatkan kesempatan kerja dibandingkan perempuan. Namun disisi lain, banyak juga jenis pekerjaan yang mensyaratkan dilakukan oleh perempuan karena lebih memerlukan ketelatenan dan ketelitian. Lihat data di bawah ini:
Perbedaan kesempatan kerja tersebut berdampak pada partisipasi tenaga kerja yang tercermin dari angka Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Pada tahun 2014 angka TPAK perempuan hanya sekitar 50 persen, sedangkan TPAK laki-laki sudah mencapai sekitar 80 persen. Angka TPAK ini menunjukkan adanya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam aspek ketenagakerjaan. Terlihat bahwa persentase perempuan yang bekerja masih jauh lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Pada tahun 2014, proporsi perempuan yang bekerja sebesar 47,08 persen sedangkan proporsi laki-laki mencapai 78,27 persen. Lihat di bawah ini:
Rendahnya TPAK perempuan dapat dilihat pada kegiatan seminggu yang lalu yang sekaligus menunjukkan adanya stigma pembagian peran laki-laki adalah bekerja dan perempuan adalah mengurus rumah tangga. Pada 2014 diperoleh bahwa selain bekerja, kegiatan lain yang dilakukan perempuan seminggu yang lalu adalah mengurus rumah tangga dengan proporsi hampir 38 persen. Sementara laki-laki yang mengurus rumah tangga hanya sebesar 2 persen. Angka ini yang seolah menjadi pertanda bahwa ketidakadilan perempuan memang masih berjalan hingga kini dan itu seolah terlegitimasi di wilayah warisan budaya (culture heritage) kita. Upaya dekonstruksi menjadi titik poin bagamana seharusnya perempuan mendapat keadilan secara subtantif.

Bagaimana dengan kondisi Perempuan dalam Sub Hukum?

Perjalanan panjang akan perjuangan kesetaraan tidak hanya berakhir pada masa Kartini saja, tetapi hingga saat ini ketidakadilan terhadap akses, manfaat, partisipasi dan kotrol terhadap perempuan masih saja tetap diberlakukan. Contoh kecil ketidak adilan gender bisa dilihat dari peraturan Bupati Purwakarta No. 69 Tahun 2015 Tentang Pendidikan Berkarakter, dimana tertuang secara jelas yaitu:

 Upaya maskulinisasi dan femininimisasi dalam pasal 26 tersebut menjadi jelas bahwa perempuan dan laki-laki diperlakukan secara berbeda. Bupati Purwakarta memahami eksisten “karakter” seperti sesuatu yang harus ditentukan berdasarkan jenis kelamin, bahwa anak laki-laki harus bisa menanam, meramu, bergembala (hunter). Sebaliknya memiliki keterampilan memasak, menenun, menyulam,  harus dimiliki bagi perempuan (gatherer). 

**
Pertanyaanya adalah apakah hanya cukup mengenang hari Kartini 21 April saja sudah cukup menggembirakan bahwa upaya keadilan perempuan bisa didapatkan? Apakah dihari ke-137 tahun lahirnya Kartini hingga kini menjadi pertanda bahwa keadilan dan kesetaraan gender sudah di dapat? Jawabannya jelas “tidak”. Kartini hanya sebatas Kartini, Kartini dulu melawan Hindia Belanda, Kartini dulu melawan domestifikasi keluarga dan adat agama. Perlawanan Kartini dulu hingga sekarang masih tetap berjalan, keadilan bagi perempuan dan laki-laki menjadi harga mati untuk sebuah perjuangan. Data BPS terkait peningkatan ketidakadilan tidak hanya sebatas lip service saja, ia bentuk rentetan perjalan panjang bagaimana Kartini Baru menjelma di tataran sistem, struktur maupun budaya (adat) dalam keadilan maupun kesetaraan. Kartini bukan untuk dikenang, bukan pula upaya seremonial Kementerian/Lembaga ataupun masyarakat, tetapi bagaimana capaian indeks pembangunan perempuan bersamaan dengan indikator keberhasilan keadilan, kesetaraan, non disrkiminasi antara laki-laki dan perempuan. Jika hanya sebatas upaya seremonial ia tak lebihnya seperti manusia yang hobinya bercerita tetapi minim untuk diceritakan (homo festifus). Ia tak ubahnya hanya menjadi penjilat sejarah, ketimbang mengukir peradaban sejarah.

*Salam Pecinta Kesederhanaan

Monday, 4 May 2015

Thomas Alva Edison Sang Pekerja Keras


Siapa yang tak kenal dengan Thomas Alva Edison, seorang penemu bola lampu dengan ribuan percobaan. Nama Thomas Alva Edison, sejak kecil telah dikenalkan oleh guru kita dengan segudang keberhasilannya. Namun dibalik sisi suksesnya, sebetulnya bagaimana perjalanan biografi Thomas Alva Edison ini. Apakah ia memiliki magis tersendiri agar menjadi familiar, ataukah ia betul-betul seorang yang ditakdirkan untuk menjadi terkenal? Yang jelas Thomas juga seorang manusia, ia bukan seorang nabi atau apapun. Menikmati percobaan demi percobaan secara keras itulah alamat sikap optimistiknya. Bahkan hingga kini, salah satu kutipan inspirasi yang paling terkenal darinya yaitu inspirasi 1% dan 99% kerja keras, bakat 1% dan 99% kerja keras.

Menurut catatan yang ada, Thomas Alva Edison dilahirkan di kota Milan, Ohio Amerika Serikat pada tanggal 11 Februari 1847 dan wafat di New Jersey, Amerika Serikat pada tanggal 18 Oktober 1931. Jauh sebelum melakukan penemuan bola lampu, pada masa kecil, pendidikan formalnya hanya berlangsung hingga 3 (tiga) tahun saja, karena dirasa tidak memiliki reputasi nilai baik. Untuk itu, ibunya memilih memberhentikannya, dan mengajarinya sendiri di rumah. Dikatakan dalam bukunya Michael Heart, bahwa pihak guru dari sekolah menganggap Thomas Alva Edison anak yang dungu luar biasa.[1] Bahkan dalam bukunya Ahman Sutardi, bahwa pada masa kanak-kanak Edison terkena kelainan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) yaitu kelainan berupa tingkah laku yang hiperaktif sebagai akibat kurangnya perhatian dari lingkungan sekitar.[2]

Rangkaian penelitian manualnya secara hiperaktif terjadi ketika Edison ingin melihat bara api dengan membakar gudang tumpukan jerami milik ayahnya. Peristiwa itu membuat bokongnya Edison dipukul oleh ayahnya secara bertubi-tubi. Contoh lainnya yaitu Edison juga sering membuat marah gurunya seperti melontarkan banyak pertanyaan; mengapa hujan, mengapa gerbong kereta dapat bergerak, dan lain-lain. [3]

Setelah diberhentikan dari sekolah, Edison kecil bisa leluasa membaca buku-buku ilmiah dewasa.  Karena ketertarikannya dalam membaca buku ilmiah, setelah itu ia mulai mempraktikan (percobaan ilmiah) apa yang ia telah bacanya sendiri, yang dilakukan di ruang bawah tanah milik orang tuanya. Beberapa orang mengatakan bahwa setelah diberhentikan dari sekolah, Edison disekolahkan kembali. Namun terlepas dari itu, Edison kecil ternyata tak cukup waktu untuk selalu belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Pada usia 12 tahun, ia mulai bekerja sebagai penjual Koran, buah-buahan dan gula-gula di kreta api. Setelah itu ia menjadi operator telegraf. Tak lama setelah itu, Di New York ia diminta untuk menjadi kepala mesin telegraf yang penting. Mesin-mesin itu mengirimkan berita bisnis ke seluruh perusahaan terkemuka di New York.[4]

Berkat kerja keras dan prinsip pantang menyerah, kemudian lahirlah ciptaan pertamanya yaitu perekam suara elektronik ketika umurnya dua puluh satu tahun. Hasil karyanya itu tidak dijualnya. Sesudah itu dia menekuni pembuatan peralatan yang diharapnya bisa terjual di pasar, tak lama sesudah ia berhasil membuat perekam suara elektronik, dia menemukan dan menyempurnakan mesin telegram yang secara otomatis mencetak huruf, yang dijualnya seharga 40.000 dolar, suatu jumlah besar pada saat itu. Sehabis itu, bagaikan antri dia menemukan hasil karya baru dan dalam tempo singkat Edison bukan saja masyhur tetapi juga berduit. Mungkin, penemuannya yang paling asli adalah mesin piringan hitam yang dipatenkannya tahun 1877. Tetapi, lebih terkenal di dunia dari itu adalah pengembangan bola lampu pijar yang praktis tahun 1879.[5]

Edison juga memberi sumbangan besar luar biasa buat perkembangan kamera perfilman serta proyektor. Dia membuat penyempurnaan penting pertilponan (karbon transmiternya meningkatkan kejelasan pendengaran), penyempurnaan di bidang telegram, dan mesin tik. Diantara penemuan lainnya antara lain mesin dikte, mesin kopi dan tempat penyimpanan yang digerakkan baterei. Boleh dibilang, Edison merancang lebih dari 1000 penemuan, suatu jumlah yang betul-betul tak masuk akal. Meski secara pembawaan dia bukan seorang ilmuwan murni, Edison membikin satu penemuan ilmiah. Di tahun 1882 dia menemukan bahwa dalam keadaan mendekati hampa udara, arus listrik dapat dialirkan diantara dua kawat yang tidak bersentuhan satu sama lain. Fenomena ini, disebut penemuan Edisonbukan sekedar punya maksud teoritis yang penting, tetapi juga punya arti penggunaan praktis yang bermakna. Ini menuntun ke arah perkembangan tabung hampa udara dan peletakan dasar industri elektronik.[6]

Hampir sepenuh masa hidupnya, Edison menderita pendengaran lemah. Tetapi, meski begitu, dia lebih dari sekedar dapat mengatasi hambatan itu dengan kerja kerasnya yang mengagumkan. Kurang lebih sekitar 1.093 buah penemuannya telah dipatenkan miliknya.[7] Perjalanan panjang dan tak mengenal letih dari Edison telah membuahkan hasil yang amat luar biasa. Baginya, kegagalan demi kegagalan merupakan syarat utama menuju sebuah keberhasilan. Keberhasilan merupakan sebuah proses menuju sukses, dari banyak kegagalan-lah justeru akan mendapat insirasi baru. Bagi Edison, kegagalan dipandang sebagai sesuatu yang positif dalam proses pencarian jawaban melalui praktikum yang sering dilakukannya.

Bahkan Edison kerap mengatakan kegagalan yang terjadi serta muncul secara tiba-tiba sebagai proses kesuksesan karena dari kegagalan-lah akan ditemukan buah penemuan yang baru. Edison berpendapat bahwa ia telah menemukan 1.000 jenis bahah (kawat) yang tidak bisa digunakan untuk kawat halus pengantar arus listrik dalam bola lampu, hal itu berkat penelitian dan kegagalannya selama ini. Tidak salah Edison mengatakan inspirasi hanya 1% dan sisanya 99% adalah kerja keras. Ide memang mahal, tetapi realisasi ide lebih mahal dari apa yang kita bayangkan. karena dari realisasilah kata sukses secara nyata akan berjalan tanpa tekanan. Ini yang membedakan antara cita-cita dan tujuan hidup yaitu realisasi nyata tanpa rekayasa.




[1] Thomas Alva Edison Urutan 38 dar Michael H.  Heart, 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Ed. Terj. H. Mahbub Djunaidi, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, 1982).
[2] Ahman Sutardi, Ingin Cepat Sukses? Gunakan Formula Sukses Thomas Alva Edison, (Jakarta: PT Elex Meia Komputindo, 2008) , hal. 5
[3] Ahman Sutardi, Ingin Cepat Sukses? Gunakan Formula Sukses Thomas Alva Edison, (Jakarta: PT Elex Meia Komputindo, 2008), hal. xxv
[4] Thomas  Edison, http://id.wikipedia.org/wiki/Thomas__Edison. diakes pada tanggal 21 April 2015
[5] Thomas Alva Edison Urutan 38 dar Michael H.  Heart, 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Ed. Terj. H. Mahbub Djunaidi, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, 1982).
[6] Thomas Alva Edison Urutan 38 dar Michael H.  Heart, 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Ed. Terj. H. Mahbub Djunaidi, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, 1982).
[7] Ahman Sutardi, Ingin Cepat Sukses? Gunakan Formula Sukses Thomas Alva Edison, (Jakarta: PT Elex Meia Komputindo, 2008), hal. Xi

Friday, 10 April 2015

Biografi Ahmadinejad: Figur Tokoh Sederhana

Gambar AhmadinejaOleh Dina Y. Sulaeman


Siapa yang tidak kenal dengan Ahmadinejad, seorang tokoh pemimpin dunia yang religous dari Iran ini menjadi perhatian dunia ketika pemilihan presiden Juni 2005 dimenangkan olehnya. Ahmadinejad dikenal sebagai tokoh presiden tegas dan sederhana sekaligus kontroversial dari beberapa kebijakan serta kritik terhadap pihak yang menentangnya.

Ahmadinejad awalnya bukan siapa-siapa, nama Ahmadinejad baru muncul dan menjadi pembicaraan ketika ia berhasil menyingkirkan beberpa kandidat presiden, dan ia menjadi pemenang kedua setelah Rafsanjani. Karena tak satu pun kandidat memperoleh lebih dari 50% suara, putaran kedua pemilu pun kembali digelar. Saat itu, orang masih memandang Ahmadinejad sebalah mata. Selain itu juga Ahmadinejad dikenal dekat dengan seorang tokoh konservatif yaitu para mullah.

Jauh sebelum itu, siapa sih sebetulnya Ahmadinejad? Dari manakah dia berasal? Apa yang istimewa dari perjalanan biografinya—hingga saat ini masih didengung-dengungkan dengan sebutan mantan presiden yang cerdas dan sederhana.

Mahmud Ahmadinejad atau yang biasa disebut dengan Ahmadinejad saja, dilahirkan di daerah yang sepi dan terpencil yaitu Aradan, tepatnya pada 28 Oktober 1956. Sebetulnya nama asli dari Ahmadinejad sendiri berasal dari ketertarikan ayahnya (Ahmad Saborjihan) agar kelak namanya seperti artinya yaitu ras yang unggul, bijak dan paripurna. Sedangkan nama lamanya yaitu Mahmud Saborjihan, jika diartikan dalam bahasa persia berarti pelukis karpet. Dari kota kecil dan sepit ujung utara padang garam inilah lahir seorang pemimpin sederhana.

Ahmadinejad merupakan anak keempat dari ketujuh bersaudara. Ia dilahirkan dari keluarga sederhana, hingga pada akhirnya mempengaruhi pola aktivitasnya dalam menjalankan roda kepemimpinan sebagai presiden Iran kala itu. Bahkan seperti yang dikutip dalam buku Kasra Naji berjudul “Ahmadinejad: Kisah Rahasia Sang Pemimpin Radikal Iran”, menjelaskan bahwa rumah masa kanak-kanak pertama dari Ahmadinejad merupakan rumah kontrakan sederhana, seperti lantai berbahan bata dan turap dari lumpur. Bekas rumahnya tersebut itu digunakan oleh penghuni sekarang sebagai kandang ayam (Kasra Naji: Gramedia Pustaka Utama, 2009, h. 4).

Kehidupan ketika menjadi presiden pun tak jauh berbeda dari masa kanak-kananya. Rumah dinas yang dipakainya pun bukan rumah dinas dari pemberian fasilitas negara, tetapi rumah pribadi beserta istri dan ketiga anaknya. Sejak saat itulah rumah tersebut terasa sempit, karena selain ditinggali sang istri dan anaknya, tetapi rumah dari gang buntu tersebut dijadikan ruang kerja sang presiden. Rumah tersebut juga memiliki ruangan seluas 6 x 10 sebagai ruang tamu presiden. (Sayyid Maulana Khan, “Ahmadinejad The Lion from Aradan”: Mizan, 2007, h. 23)

Meski masa kecilnya serba kekurangan, namun tidak menyulutkan niat Ahmadinejad menjadi seorang yang cerdas sekaligus religous. Dalam bidang bahasa, ia menguasai empat bahasa sekaligus, yaitu Arab, Persia, Inggris dan Prancis. Ia juga lulusan dari sebuah Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) dengan gelar doktor dalam bidang teknik dan perencanaan lalu lintas dan transportas. Ia pernah juga menjadi seorang guru ngaji atau buka kursus baca al-Qur;an, padahal dia tidak dilahirkan dari keluarga yang pandai baca al-Qur’an (Kasra Naji: Gramedia Pustaka Utama, 2009, h. 4-5).  

Jauh sebelum Ahmadinejad menjadi seorang pemimpin terkemuka, kehidupan sederhana Ahmadinejad sebetulnya diinsiprasi oleh sang ayah. Perjuangan hidupnya telah diperlihatkan sejak Ahmadinejad kecil. Pada tahun 1958 setelah kelahiran dua tahun Ahmadinejad, ayahnya membawa keluarga dari Aradan ke Narmak. Tujuannya sendiri tak lain agar kehidupan keluarga menjadi semakin membaik dengan mencari pekerjaan di sana. (Kasra Naji: Gramedia Pustaka Utama, 2009, h. 4-5).  

Dari daerah Narmak-lah ayah Ahmadinejad memulai kehidupan yang baru dan terencana. Di sanalah ayah Ahmadinejad membuka sebuah bengkel pandai besi. Hingga pada akhirnya, kerja keras sang ayah terbayarkan, karena bisa membeli sebuah rumah bata dengan dua lantai sederhana. Pada waktu itu Narmak menjadi daerah berkembang, suasananya tidak seperti ayah Ahmadinejad pindah pertama kali.

Berlanjut pada tahun berikutnya, sekitar tahun 1960-an, Ahmadinejad mulai bersekolah di Narmak, kira-kira bersamaan dengan stagnasi kisruh pemerintah dengan ulama Syiah di Qom. Selang beberapa tahun, terjadi pristiwa politik yang berujung pada revolusi Islam pada tahun 1979. Sebetulnya  Ayatullah R. Khomeni yang menjadi promotor pergerakan tersebut untuk melancarkan pertentangan kebijakan modern yang dilakukan oleh Shah. Yang pada akhirnya, satu dekade setelahnya menghantarkan Ahmadinejad menjadi seorang presiden revolusioner.

Beberapa catatan penting kesederhanaan dari Ahmadinejad yaitu ketika menjadi Walikota Taheran tahun 2005, ia juga sekaligus menjadi petugas kebersihan, tak jarang ia sering membersihkan kotoran diselokan, memagang sapu dan lain-lain—layaknya sebagai petugas kebersihhan dengan mengenakkan pakaian kebersihan. Jas yang digunakan untuk bekerja sebagai presiden pun ia beli di toko-toko negerinya sendiri. Berkisar harga 50-70 $. Begitu juga dengan sepatu yang dipakainya, berdasarkan pengakuan dari seorang teman dekatnya, sepatu yang dipakai oleh Ahmadinejad merupakan sepatu butut, bahkan ketika ia setelah 2-3 hari dari pemilu Presiden dengan kemenangannya, ia tetap saja memakai sepatu usang yang dipakainya sejak kuliah. Ahmadinejad juga dikenal seorang penikmat kurma yang murah (merk kurma Goerge W. Bush), berbeda dengan pemimpin-pemimpin lainnya. Bahkan ada yang lebih unik dari kesederhanaan Ahmadinejad yaitu jamuan mnimuman tamu presiden hanya limun, dan ketika menjadi walokota dilarang menyediakan pisang kepada tamunya, karena terlalu mahal menurutnya. Aktivitas kesederhanaan seorang pemimpij Ahmadinejad sangat banyak dan sulit digambarkan di sini, bahkan ia menjadi salah satu nominator World Mayor 2005 sebelum menjadi presiden pun.

Ada yang menarik dari nilai filosofi kesederhanaan Ahmadinejad yaitu: Saya lahir dari keluarga miskin di desa terpencil yang menganggap kemakmuran sama dengan kehormatan dan tinggal di kota besar sama dengan kemewahan duniawi. (Kasra Naji: Gramedia Pustaka Utama, 2009, h. 1).  Lanjut Ahmadinejad dalam buku lain: Kenapa saya harus merasakan kenyamanan kalau rakyat di sekitar saya merasa kepanasan. (Maulana Khan, “Ahmadinejad The Lion from Aradan”: Mizan, 2007, h. 21).


***Salam Kesederhanaan.....

Saturday, 21 February 2015

Tuli Membuat Beethoven Menjadi Komponis Besar

Wikipedia: Lukisan Beethoven oleh Joseph Karl Stieler, 1820
Beberapa orang menganggap bahwa keterbatasan sering kali menjadi pemicu utama dalam memajukan karir atau hobi seseorang. Bahkan ada yang menganggap faktor utamanya adalah A, ketika kita kehilangan A, maka tidak bisa digantikan oleh B, dan secara otomatis hal itu mustahil bisa dilakukan. Logika seperti ini telah menjalar kepada kita. Logika demikian bisa dipatahkan dengan kisah komposer sekaligus pianis yang telah mengalami ketulian sejak masih muda, ia adalah Beethoven sang maestro. Ia adalah salah satu komposer beropengaruh di dunia hingga kini. Selama karirnya, ada sekitar 9 simfoni, 17 string kuartet, 7 concerto, 32 sonata piano, 10 sonata untuk piano dan biola, dan 1 opera klasik. Sebuah prestasi yang luar biasa bagi Beethoven.

Beethoven lahir di Bonn (Ibukota Jerman Barat Dulu) pada tanggal 15/16 Desember 1770. Perjalanan bakat musik Beethoven sebetulnya telah tumbuh sejak kecil, di mana ia dilahirkan dari keluarga musikal, serta diperkuat hubungannya terhadap Istana Bonn (Rhoderick J. Mcnell: Sejarah Musik II, Jakarta, 1998. Hal. 55). Beethoven juga sangat tertarik pada gaya musik yang tumbuh di Prancis selama revolusi Prancis dan awal masa Napoleon yang sering kali memakai ritme mars, harmonik diatonik dan masik kala itu, pada pertengahan tahun 1801.
Setelah banyak belajar dari sang maestro kala itu, Beethoven kemudian memulai karirnya sebagai sang pianis di Wina. Bahkan sebagian orang mengatakan bahwa Beethoven telah menjembatani musik zaman klasik, khususnya gaya Haydn dan Mozart serta gaya romantik yang mendominasi musik selama tahun 1820-1860. Sebagai komponis muda, Beethoven menguasai konvensi-konvensi gaya musik klasik yang telah berkembang di Wina dalam musik berbentuk sonata, kemudian ia berani melakukan percobaan dalam bentuk dasar dan memperluasnya. Dalam musik pianonya, pengaruh-pengaruh utama terhadap Beethoven slain music Haydn dan Mozart pengaruh gaya sonata dari Muzio Clementi dan Jan Ladislav—membuat Beethoven lebih dakam mengelaborasi gaya piano idiomatis.

Dalam perjalannya, disadari atau tidak bagi Beethoven, sejak 1796 Beethoven merasakan perbedaan terhadap pendengarannya, tetapi kala itu ia tidak menganggap penyakitnya akan serius. Namun setelah dirasa-rasa olehnya, berkurangnya pendengaran tampaknya berpengaruh pada otoslerosis dan saraf pendengaran Beethoven. Akibat masalah kesehatan ini, Beethoven mengalami depresi berat. Di tambah lagi profesi yang digelutinya yaitu pendengaran.

Perjuangan Beethoven melawan ketakutannya semakin menjadi-jadi, peris Beethoven seolah tidak lagi mempunyai banyak harapan. Hal itu bisa dilihat dari curhatan surat yang dituangkan olehnya saudarahnya bahkan teman dekatnya. Pada tahun 1901, ia menyurati seorang temannya:

“Saya hidup dengan sangat sedih. Selama hampir dua tahun saya tidak menghadiri pesta-pesta, khususnya karena saya tidak dapat memberitahukan orang lain: ‘Aku tuli. Kalau saya punya profesi yang lain saya dapat dengan mudah menghadapinya, namun dalam profesi saya, hal ini adalah rintangan yang buruk. Dan, musuh-musuh saya sangat banyak, apa yang aka dikatakan mereka?”

Rasa sedih Beethoven meningkat lagi saat dia tidak mendapat mencari pendamping hidup. Bahkan dalam beberapa peristiwa ia terlihat seperti gila serta memiliki sifat yang sangat agresif. Lebih lanjut, ketakutan pun lebih mendalam, ketika ia berada di sebuah desa Heiligenstadt, ia menuliskan surat kepada kedua adiknya. Surat itu menjelaskan kesedihannya yang begitu dalam tentang penyakitnya. Dan tampatnya menurut beberapa ahli, bahwa Beethoven menganggap ajalnya sendiri terasa sudah mendekat. (Rhoderick J. Mcnell: Sejarah Musik II, Jakarta, 1998. Hal. 61).

Meski begitu, aktivitas musik Beethoven sering menggunakan otaknya dari pada pendengarannya, tak lain untuk menuangkan ide-ide segar musiknya. Melalui partitur musik ia dapat menotasikan ide-ide musik yang masuk ke dalam otaknya. Beberapa karya terkenalnya yaitu Simfoni ke-lima dan ke-sembilan serta lagu piano Fur Elise.

Pada bulan desember 1826 Beethoven jatuh sakit karena penyakit liver. Brselang lebih dari satu tahun, tepat tanggal 26 maret 1827 Beethoven meninggal. Sekitar 10.000 orang menghadiri upacara pemakaman, hal in juga menandakan sebuah prestasi besar dari Beethoven di Wina kala itu. (Rhoderick J. Mcnell: Sejarah Musik II, Jakarta, 1998. Hal. 65).

Walaupun musik yang diciptakan menjelang akhir hidupnya tidak selalu dimengerti oleh generasinya, namun Beethoven lah merupakan satu-satunya komponis awal abad ke-19 yang mempengaruhi hampir semua komponis sesudah masanya. Selama hidupnya, dan lama sesudahnya, prestasinya begitu besar hingga ia menjadi lambang gerakan romantik dalam segala jenis kesenian. Meski indra pendengaran merupakan modal dasar untuk meniti karir selanjutnya, namun ada cara lain untuk mensiasatinya. Tuhan memberikan kita akal untuk dipergunakan semaksimal mungkin, tak lain agar kita jauh lebih kreatif ketika musibah atau tantangan melanda kita.

***Salam Pecinta Kesederhanaan

Friday, 20 February 2015

Adonis, Sastrawan Arab Paling Kritis


Bagi sebagian orang, dunia sastra memang terlihat absurd. Apalagi ketika sastra sudah beralih terlalu dalam pembahasannya, hal demikian membuat orang materialis mulai enggan menanggapinya. Perkembangan sastra khususnya di timur, secara tidak langsung telah menggeser skopnya menjadi romantisme dan materalisme. Hal itu bisa dirasakan ketika novel bergenre fiksi dan roman sangat laku keras di pasaran toko buku Indonesia dari pada novel yang berjeniskan ideologis, agama dan sejenisnya. Memang, dunia materalis lebih memilih kemapanan budaya, sastra, bahasa, agama, sosial, ekonomi dan lainya. Namun bagi sastrawan Timur Arab seperti Adonis melihat sastra lebih dari itu. Bagi Adonis, sastra bukanlah kemapanan. Menurutnya,  perkembangan sastra seringkali berkolaborasi dengan kemapanan sosial, agama, kekuasaan dan uang. Bisa dikatakan kritik sastra Adonis sangat berkontribusi terhadap pemikiran Sastra Arab-Muslim saat ini. Namun siapa sebetulnya Adonis sang kritikus itu? Dari mana dia berasal? Apa pengaruhnya terhadap dunia sastra? Di bawah ini selayang pandang perjalanan Adonis sang kritkus sastra arab-muslim.

Adonis merupakan penyair Arab yang paling berpengaruh di abad ke-20. Karya sastra modernisnya sangat berpengaruh terhadap dampak budaya Arab. Terjemahannya dari bahasa Perancis ke dalam bahasa Arab dan sebaliknya, merupakan edisi kritis terhadap karya penyair lain. Konstibusi Adonis bagi sastra arab, dilakukannya sekitar setengah abad. Dalam perjalannya, kehadiran serta produktifitas karyanya dalam dunia sastra Internasional membuat Adonis pernah dua kali menjadi finalis hadiah Nobel. Saat kecil, ayahnya memerintahkan Adonis untuk menghapal pelajaran agama dan puisi klasik, dengan cepat Adonis hapal. Ketika berumur tiga belas tahun, Presiden terpesona akan puisi Adonis, dan dia dianugrahi oleh seorang Presiden baru Syiria dengan beasiswa untuk mendalami syair yang pernah dibacakannya. Sekitar tahun 1944, Sang Presiden mengirim Adonis ke sekolah Perancis di Kota Tartus. Adonis yang cerdas melompati tingkat-tingkat kelas. Ia menyelesaikan studi di bidang hukum dan filsafat di Universitas Damaskus, dan sempat belajar di Perancis. Tahun 1973, ia memperoleh PhD dalam Sastra Arab dari Universitas St Joseph di Beirut. Karyanya terkenalnya dimulai dalam bahasa Perancis, meskipun ia terus menulis dalam bahasa Arab. Puisi pertamanya muncul di media cetak (1947) berada di bawah Nom de Plume.

 Nama Adonis sendiri sebetulnya bukan nama asli, nama tersebut diberikan oleh Anton Sa’adah, nama aslinya adalah Ali Ahmad Sa’id Asbar. Nama Adonis terambil dari satu dewa legenda Babilonia kuno.  Dewa muda ini merupakan simbol dari keindahan da kebaikan. Ia lahir dari hubungan gelap antara raja Theyas atau Cinyras, raja Siprus dengan putrinya Myrrha. Akibat hubungan itu, Myrrha dikutuk menjadi pohon, dari pohon itulah Adonis lahir sebagai simbol kehidupan baru yang bebas dari dosa-kenistaan memiliki sifat keilahian timur, kebaikan dan kesuburan. Karya puisi tentang Kematian dan kelahiran kembali merupakan visi puitis mengenai transformasi dan pembaharuan (tajdid), bagi Adonis penyajian puisi dianjurkan serta diaktualisasikan dalam ayat bebas. Karya puisi baru '(al-shi'r al-jadid) serta sentimen penutupan revisi 1998 tentang koleksi 1.980 esai, seperti Fatiha li-Nihayat al-Qarn [Pengantar Akhir Abad].

Jika ditelusuri lebih lanjut, publikasi pertama Adonis yaitu berjudul Qalat al-Ard, karya ini muncul di akhir tahun sarjana di Universitas Damaskus, di mana ia belajar filsafat dan mengembangkan antusiasme untuk penulis Perancis. Bacaannya penyair arab Adonis seperti Ilyas Abu Shabaka, yang sangat dihargai Baudelaire, dan Sa'id 'Aql, yang dikagumi Mallarme. Dalam perjalannyam Adonis juga beberapa bulan pernah dipenjara karena kegiatan politik, khususnya untuk mendukung partai Ba'athist dari Antun Sa'ada. Dan hal itu mendorong dia untuk pergi ke Beirut pada tahun 1956 dengan calon istrinya, sastra kritikus Khalida Saleh. Adonis tidak akan kembali ke Suriah, tetapi pengaruh Sa'ada masih ada. Tidak hanya Adonis yang mengembangkan keyakinan politik dan sosial di perusahaan, bagitu juga dengan Sa'ada yang membuat Adonis sadar akan pentingnya mitos dan sejarah sastra. Pada tahun 1957, Adonis meneribitkan Qasa'id ula [Pertama Puisi] dan pada tahun yang sama  dengan penyair Lebanon, kritikus dan penerjemah Yusuf al-Khal, jurnal puisi [Shi’r], yaitu forum surat Arabic. Adonis memiliki sebuah perusahaan penerbitan dan telah mempublikasikan karya-karya penulis lain yang tak terhitung jumlahnya, termasuk Badr Shakir al-Sayyab, Fadwa Tuqan, Nazik al-Mala'ika, Michel Trad, dan banyak lagi.

Terlepas dari kualitas dan volume terbitan jurnal Shi'r itu, dan publikasi Awraq fi al-Rih, yang mengungkapkan upaya awal penyair untuk memadukan Arab dan tradisi sastra Perancis, publikasi itu sekitar tahun 1961, hal itu juga yang akan mendorong karir Adonis ke tahap lebih jauh. Dia menghabiskan waktunya dari 1960-1961 di Paris di mana ia bertemu dengan Aragon, Prevert, Michaux dan lain-lain—untuk memulai kajian komprehensif dengan banyak karya dari kritikus (termasuk Adonis sendiri) mempertimbangkan salah satu karya terbaiknya dan yang paling penting, yaitu Aghani Mihyar al-Dimashqi [The Songs of Mihyar Damaskus]. Dalam karya Aghani, Adonis mencari api baru dari kebakaran tua, berusaha untuk menghidupkan kembali bahasa serta warisan Arab-Islam.

Pada tahun 1961 Adonis juga menyampaikan makalah pada sebuah konferensi di Roma di mana ia mengajukan konsep masa lalu sastra, dan menegaskan bahwa  hal itu adalah tugas penting dari puisi yang menjadi nubuat dan visi untuk menerobos cakrawala yang telah tertutup lama, untuk itu munculkan kembali  ke dunia lebih luas. Ia juga mengkritisi karya The Nahda, yaitu sebuah karya kebangkitan Arab abad ke-19, dan menyebutnya sebuah “ornamen baru dalam warna tua”, konsep itu merupakan kelanjutan dari siklus tradisional di mana tidak ada pelanggaran yang dilakukan, tidak ada jendela untuk dibuka. Seperti Amin Rihani, dan Kahlil Gibran, yang ia kagumi. Tidak puas hanya mengamati ini saja sebagai kritikus, Adonis menghabiskan enam puluhan untuk meninjau kembali kanon dalam tiga volume yaitu berjudul Diwan al-shi'r nya al-'Arabi [Antologi Puisi Arab]. Pada awal tahun delapan puluhan, dengan kolaborasi istrinya, Adonis telah mengedit enam buku puisi dan prosa oleh penulis Nahda.

Pada 1970-an Adonis telah meneribitkan kecenderungannya. Tiga serangkai introspektif puisi pada Waqt bayna al-Ramad wa al-ward (Sebuah Waktu antara Ashes and Roses), buku ini membahas isu-isu kekalahan Arab yang mengakibatkan kerugian tahun 1967 Perang Arab-Israel; mempertanyakan oposisi Timur atau Barat dengan mengambil alih Whitman dan tradisi modernis Amerika; dan dengan mencoba untuk gaya bahasa puisi baru. Ide-ide ajaib dan puisi Mufrad bisighat al-jam '[Singular dalam Bentuk Plural], yang akan menemukan gema kemudian di Abjadiyya Tsaaniyah [A Alphabet Kedua], karya ini menjadikan Adonis dengan reputasi kemuskilannya. Tapi dia tidak hanya menulis puisi saja.  Tesis doktornya, al-Tsabit wa al-mutahawwil [Ketetapan dan Pergerakan], yang ditulis di St. Joseph University di Beirut di mana ia mengajar selama 15 tahun di sana.  Disamping itu, Adonis juga terlibat dalam analisis kontroversial dan komprehensif dari apa yang dianggapnya efek menyesakkan teologi Islam kontrol politik dan artistik. Ini bukan untuk mengatakan bahwa tulisan Adonis 'tidak diinformasikan oleh pengetahuan yang mendalam tentang Islam; memang ia memiliki cinta khusus untuk dimensi esoteris dan mistis. Hal ini tidak mengherankan, karena itu dalam karyanya: untuk menemukan 'Ali, Imam Syiah pertama, personafikasi berulang di karya puisi Adonis. Hadir juga penulis abad ke-10 dan Mistisme al-Niffari, yang berjudul yang Kitab al-Mawaqif wa al-mukhatabat, kitab ini adalah inspirasi dari Mawaqif, jurnal budaya dan sastra berpengaruh didirikan oleh Adonis pada 1968.

Pada 1980-an dan 1990-an, Adonis terus menerbitkan puisi, kritik, edisi, dan terjemahan. Dia meninggalkan Beirut untuk ke Prancis saat perang melanda, dia juga menjadi pelayan di UNESCO dan mengajar di Prancis dan Swiss. Puisi Shahwa Tataqaddam fi Khara'it al-Madda dan koleksi lainnya mengambil banyak pertanyaan lebih dalam. Pertanyaan yang Adonis telah kaji seperti dalam esai al-Shi'riyya al ' Arabiyya, volume prosa pertama Adonis diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Pada tahun 1988, Adonis mengedit dan menerbitkan kembali edisi definitif koleksi awal, karya religious dan mistisme seperti al-Sufiyya wa al-Suriyaliyya [Tasawuf dan Surealisme], di mana ia berusaha untuk menunjukkan bahwa tasawuf dan surealisme Eropa sumber yang sama. Studinya al-Nass al-Qur'ani wa Afaq al-Kitaba yang membahas tentang aturan panggung puitis pemberani. Pada tahun 1993 Adonis menghasilkan karya autobographi pertamanya. Pada tahun 2000 Institut Du Monde Arabe di Paris, memajang puisi Adonis dan karya seninya, menyelenggarakan pameran retrospektif karyanya. Tahun berikutnya Adonis menerima hadiah puisi dan beasiswa seluruh dunia. Dari karya kritis serta puisinya, baru muncul sekitar tahun 2001.


Rujukan Utama

Ed. Sarah Pendergast & Tom Pendergas, Reference Guide to World Literature,. Vol. I, (USA: Gale, 2003), 3rd Edition, hal. 8-9

Friday, 6 February 2015

Belajar Memaksimalkan Kemampuan Dari Ratna Indraswari Ibrahim

Gambar Ilustrasi
Tuhan telah memberikan anugrah serta berbagai macam kemampuan kepada umatnya, baik sisi potensi akademik, psikomotorik ataupun kemampuan lainnya. Anugrah tersebut tak lain dipergunakan untuk melangsungkan kegiatan kita dalam rangka sebagai makhluk sosial. Namun tak jarang, anugrah Tuhan yang diberikan kepada kita seringkali kita menyalahgunakannya, demi memuaskan hawa nasfu hedoinis semata. Fakta demikian bisa kita lihat dari kita sendiri, waktu yang panjang pun tak pernah dimaksimalkan, belum lagi harta ataupun barang yang dimiliki. Semua itu seolah tak mengubah daya cipta kita untuk memaksimalkan hidupkan kita. Coba sedikit tengok ke kanan kiri kita, banyak sekali saudara-saudara kita yang membutuhkan semua itu, namun kita malah melalaikannya. Kita seharunya malu dengan semua yang kita miliki saat ini, karena sampai detik ini kita tak ubahnya sebuah robot yang bergerak seolah tanpa arah dan tujuan untuk memaksimal sejatinya kemampuan kita. Kita tak menghargai anugrah tuhan yang begitu besarnya kepada kita.

Coba kita telisik secarik kisah inspiratif dari Ratna Indraswari Ibrahim, Sejak kecil Ratna terserang penyakit rakitis atau radang tulang. Kondisi fisiknya yang lemah membuat Ratna sempat hampir putus asa. Untuknglah Ratna memiliki ibu yang senantiasa membesarkan hatinya sehingga lambat-laun ia bisa ikhlas menerima cobaan tesebut. Sejak itulah Ratna ingin menulis. Ia merekrut asisten untuk membantu menuangkan ide-idenya dakan bentuk tulisan. Ratusan karya indah pun bermunculan dari buah pemikirannya yang tajam.

Sebagai penulis, sudah lebih dari 400 karya yang dihasilkan Ratna. Meskipun kondisi fisiknya memaksanya untuk terus duduk di kurisi roda, tetapi tidak menghalanginya untuk terus berkarya. Karyanya tidak hanya di bidang penulisan, tetapi juga di bidang sosial. Di antaranya dengan mendeklarasikan dirinya dengan mengetuai Yayasan Bhakti Nurani di Malang. Yayasan tersebut merupakan sebuah organisasi yang membantu memperjuangkan hak orang-orang yang memiliki keterbatasan kemampuan fisik. Dedikasi Ratna di bidang karya tulis banyak membuahkan penghargaan, diantaranya mendapat predikat Wanita Berprestasi dari pemerintah RI Tahun 1994 serta penghargaan dalam kesetiaan berkarya dari sebuah harian nasional.[1]

Sebagai seorang sastrawan Indonesia yang produktif, penghargaan lainnya pun didapatkan olehnya. Seperti Tiga kali berturut-turut cerpennya masuk dalam antologi cerpen pilihan Kompas (1993-1996),  Cerpen pilihan harian Surabaya Post (1993), Juara tiga lomba penulisan cerpen dan cerbung majalah Femina (1996-1997) dan Karyanya juga terpilih masuk dalam Antologi Cerpen Perempuan ASEAN (1996). Dari karyanya yang besar, Ratna telah mengharumkan nama bangsa dan negara. Sebelum menyelesaikan karya lainya, Ratna meninggal dunia pada 28 Maret 2011 dalam usia 61 tahun.






[1] Eileen Rachman, 52 Kata-kata Motivasi yang memberikan semangat dan mencerahkan hati dari wanita Indonesia Berprestasi, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010), hal. 10

Thursday, 18 December 2014

Menemukan Makna Hidup Ala Viktor Frankl

Dalam kehidupan yang serba hampa dari keinginan, seringkali kedangkalan imaginasi dalam melakukan sesuatu menjadi tak terkendali. Tujuan-tujuan palsu seperti pondasi ekternal— uang, jabatan serta pengakuan orang lain) menurut Phillip Mc Graw telah mendominasi kehidupan kita. Alhasil kita terperangkap dalam sebuah lingkaran eksistensi yang bergerak menurun. Akibatnya secara  terus menerus kita terasa letih, stres, cemas, tak bergembira berperasaan hambar atau bahkan depresi menyelimuti diri kita.[1] Bahkan lebih miris lagi ketika hidup kita serasa tak bermakna, sebagian dari kita sering berfantasi pada masa lalu, hal demikian merupakan indikasi dimana masa sekarang sudah mulai tak bermakna seperti dahulu kala. Sebuah pertanda buruk bahwa kehidupan kita sedang mengalami guncangan dahsyat.

Jika pikiran kita serasa tumpul dan tidak secerdik dulu lagi, itu pertanda diri sejati sudah mulai terkubur. Ia tengah berjuang mendapatkan udara dari berbagai macam asupan, jika tak terkontrol maka ledakan sikap sinis, apatis, putus asa dan kurang optimis menjadi asupan yang logis bagi kita. Semua itu tak lain karena kita telah menyingkirkan siapa diri kita sebenarnya. Persoalan makna hidup seolah menjadi bahan perdebatan belaka. Coba renungkan sejenak kisah sederhana dari Kang Emen si penjual kangkung yang sehari-hari membawa 15 - 20 ikat kangkung untuk dijual kepada tetangganya. Ketika ditanya, keutungan yang didapat sekitar Rp. 7.000-10.000 perhari, ketika saya coba tanyakan kembali kepada Kang Emen tentang kepuasannya, kang Emen hanya tersenyum dan berkata: “saya senang jualan sayuran kangkung ini, karena saya merasa telah membantu banyak orang sekitar rumahnya.” Mendengar jawaban tanpa direka-reka oleh kang Emen membuat saya merasa malu pada diri saya sendiri. Hingga saat ini kata-kata kang Emen membuat saya ingin belajar menghargai siapa saya sebenarnya. 

Hikmah cerita di atas tak kalah serunya dengan cerita seorang psikiater sekaligus penulis handal yang hidup pada kekejaman rezim Nazi, namun hingga kini pengaruhnya sampai di tiap negeri ada. Siapa lagi kalau bukan Viktor Frankl,[2] dalam keterbatasannya, ia menjadi seorang psikiater di mana waktu itu penderitaan akibat penahanan di kamp konsentrasi Nazi selama Perang Dunia II seharusnya membuatnya gila, tapi tidak dengan Frankl. Ia menemukan makna hidup dan jauh lebih kreatif. Karya hidupnya menghasilkan pendekatan terapeutik[3] yang disebut dengan Logoterapi. Ia membuka jalan untuk mengenalkan kepada kita dasar eksistensi manusia. Viktor Frankl mengatakan bahwa penderitiaan traumatis bagi manusia bukan prasyarat dalam menemukan makna hidup. Ia berhasil dalam menemukan beragam konseptual bukan karena posisinya sedang dalam keadaan bahaya, namun karena diri manusia itu mempunyai pilihan.

Konsep Viktor Frankl memberikan imaginasi pada kita, sekalipun dan ketika kita menderita, betapa pun beratnya, kita memiliki kemampuan untuk menemukan makna dalam situasi tersebut. Memilih untnuk melakukannya merupakan jalan setapak menuju kehidupan yang penuh makna. Dan di dalam sebuah kehidupan yang penuh makna terdapat pekerjaan yang penuh makna.[4] Namun ketika hujan badai menghampiri diri kita dengan sejumlah tetesan air mata, seringkali kita terjebak dalam lingkaran egosime kita. Egoisme kedirian (aku) dengan perasaan serba keakuan menjadi penghambat kita untuk belajar lebih banyak siapa kita sebenarnya. Coba renungkan sedikit kutipan dari Viktor Frankl:[5]


Kutipan inspiratif dari Frank memberikan kita pemahaman akan memaknai kehidupan. Frank mengibaratkan bahwa hidup dalam dua dimensi perselisihan, untuk meraihnya kita sering mengorbankan begitu banyak pembelajaran kita yaitu pengalaman. Dalam dimensi ini, menurut Frankl pembelajaran pahit seharusnya tidak kita rasakan, karena kita makhluk pemilih, cukup merasakan kebermaknaan menjadi hal fundalmental bagi kita. Ketika sentuhan tangisan dan kehampaan dalam diri kita menghapiri secara kompleks, Frankl mengingatkan kembali dalam kutipan di atas, jika kita sudah terlanjur hidup dengan banyak penderitaan, maka yang terpenting adalah pengendalian hidup, secara otomatis hidup kita akan jauh lebih bermakna.

***Salam Pecinta Kesederhanaan…



[1] Phillip C. McGraw, Kau Mesti Tahu Yang Kau Mau, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2007), hal. 30
[2] Viktor Frankl dilahirkan di Wina, Austria, kelahirannya bertepatan wafatnya seorang seniman terkemuka yaitu Beethoven, tepatnya pada tanggal 26 Maret 1905. Sejak usia 16 tahun, Frankl telah telah mengukuhkan dirinya dengan memberikan ceramah public yaitu On the Meaning of Life. Ketika masih duduk di sekolah dia juga menulis On the Psychology of Philosophical Though. Dari 32 buku yang telah ditulisnya, magnum opus yang paling fenomenal karyanya adalah Man’s Search for Meaning. Lebih lengkap lihat Alex Patakos, Lepas Dari Penjara Pikiran, (Bandung, Kaifa, 2006), hal. 61 dan hal. 67
[3]  Logoterapi digambarkan sebagai corak psikologi/ psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will of meaning) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life) yang didambakannya.
[4] Alex Patakos, Lepas Dari Penjara Pikiran, (Bandung, Kaifa, 2006), hal. 44
[5] Alex Patakos, Lepas Dari Penjara Pikiran, (Bandung, Kaifa, 2006), hal. 69