Translate

Makna Dibalik Kegagalan

Kata “Gagal” seringkali diartikan peyoratif/negatif, tak ayal balutan serta bungkusan yang menyelimuti kita ditopang dengan beragam cara. Apapun itu, yang penting kita jauh dengan kata “gagal”. Namun apa makna dibalik kegagalan...

Bukan Mengelola Waktu, Tetapi Mengelola Energi

Saat ini mengelola waktu menjadi tren tersendiri dari kita. Bahkan hidup di era digital seperti ini, mengelola waktu bukan saja menjadi prioritas utama tetapi lebih dari itu. Namun banyak dari kita yang hidupnya mati-matian untuk mengelola waktu tetapi...

Implikasi Putusan Praperadilan Kasus BG, Bukti Nyata Hukum Indonesia Tak Jelas

Pasca putusan praperadilan perkara penetapan kasus tersangka BG yang diajukan oleh KPK dalam kasus korupsi, opini pun berhembus seperti terpecah belah dua dalam dunia hukum. Di tambah lagi beragam opini.....

Adonis, Sastrawan Arab Paling Kritis

Adonis merupakan penyair Arab yang paling berpengaruh di abad ke-20. Karya sastra modernisnya sangat berpengaruh terhadap dampak budaya Arab.....

Lintasan Sejarah Komunisme di Dunia Islam

Persinggungan antara komunisme di barat maupun di wilayah timur, terkhusus di Dunia Islam terdapat titik persamaan konseptual yaitu menolak terhadap kolonialisme barat. Seperti yang kita ketahui, hampir rata-rata di dunia Islam paruh abad 18-19-an, telah terjadi pergeseran antar ideologi.

Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts

Friday, 6 March 2015

Sindiran Atheisme Dalam Memahami Tuhan


Orang-orang skiptis-agnostik—beserta kawan-kawannya yang selalu mempersoalkan eksistensi Tuhan dalam keberwujudan-Nya. Bagi mereka bahwa Dia (Tuhan) bisa diterka lewat dunia Indera dengan berbagai metamorfosa alat pengetahuan, lebih lanjut pemaknaan akan Tuhan bukan tingkat khayalan belaka, namun lebih dari itu, jika tidak bagi mereka tu bisa membuat racun pada logika setiap manusia. Meminjam bahasanya Karl Marx, bahwa ”tuhan adalah candu”, karena menurutnya konsepsinya, karena (pemahaman) akan Tuhan, membuat kita tertindas, penalaran logik setiap manusia terkubur begitu saja dengan sayap kuda troya kata syurga.  

Di sisi lain, Do’a juga menjadi alat tersendiri bagi kalangan pemeluk agama, namun apa kata Facoult, kebenaran agama merupakan sesuatu yang tertunda—yang sulit dibuktikan dalam alam Nyata (bukan bicara Being). Ada lagi yang lebih radix daripada mereka, siapa lagi kalau bukan seorang pemuka The Grand Master Of Atheis, He’s R. Dawkins, kata pemuka Atheist yang satu ini betul-betul merusak kepala hamba ketika hamba membaca karyanya (The God Delusion), pantas saja dalam kitab Munqiz Min ad-Dholaal (Imam Ghozali) seorang ahli hukum, Telogi dan Tasawuf ini sampai kepusingan sekitar 2 bulan ketika memahami eksistensi Tuhan dalam alam maddah (materialsm).

Rangkaian di atas merupakan bentukan provokasi saya  setiap kali bertemu teman sejawat ketika di pesantren dulu, yang terlalu bangga dengan identitasnya sebagai muslim (belum tentu Islam secara kaffah), terlebih sebagian mereka bepikir picik membahas antara modernism dan Islam yang selalu dimenangkan atas nama keberpihakan. Bahkan ada sebagian orang mengatakan, bahwa akibat peradaban modern sebagian kaum beragama selalu tertindas. Modernisme tak lebih dimaknai sebagai peradaban buruk (al-tsaqofah al-jahiliyyah). 

Bagi saya, tidak etis jika pemahaman Tuhan dimaknai sebagai penghegemonian pemahaman, akan tetapi hal ini sebagai katastrofa kita semua guna terhidar dari bentuk fanatisme agama—yang pada akhirnya kita saling menuduh siapa yang paling, siapa yang paling, siapa yang paling. Bukan membenahi diri secara gradual malah menjadi muta’ashib ardh (fanatisme kolot) atau bahasa vulgarnya sering mengkafirkan Orang dengan kacamata materials (Hukum). Coba kita telisik bahasa sang Kholik yang memperingatkan kita akan keberpihakan keyakinan, dalam al-Qur’an “Allah ‘a’lamu bi iimanihim”–  (Allah Lebih mengetahui Kemimanan Mereka), kata ini merupakan bentuk “kalam tasghir” yang artinya Tuhan sebagai penentu orang baik atau buruknya identitas keimanan.

Membicarakan keimanan tidak terlepas dari pembahasan makna keyakinan akan eksistensi Tuhan. Dari sekian banyak filosof, pendeta, biarawan, ulama dan sederet pemuka agama lainnya, memahami Tuhan dengan beragam bentuknya, yaitu substansi dan metodelogi yang harus diperhatikan. Kata-kata Tuhan dituangkan seperti karya normatif belaka. Alhasil, kitab suci seolah menjadi penuh magis. Kita lupa cara memahami tuhan bukan seperti itu. Coba lihat apa kata Imam Malik dalam Kitabnya, beliau pernah berujar: Laa tuqollidnii……...wa khudz mni haitsu akhadzu, (jangan ikuti aku, akan tetapi ambilah dari mana aku mengambil). Secara sederhana Imam Malik ingin mengatakan ambilah cara atau metodelogi yang telah aku pergunakan, bukan hasilnya. Dengan kata lain cara memahami Tuhan-lah yang penting.

Keyakinan akan Tuhan terpaut halus dengan kata keagamaan dan keyakinan, terlepas dari sisi multitafsirnya—memahami tuhan (inti ajaran agama) seharusnya dibarengi dengan alam indera (materalism), hal itu sangat bias diandalkan, karena antara fakta dari rentetan kejadian beserta kumpulan pengalaman (tajribah) akan memberi makna tersendiri akan memahami Tuhan.  Karena alam material menyiratkan sisi akan ketuhanan. Kepicikan penganut atheisme, terlihat buah kekecewaan agama yang melembaga serta bentukan dari sebuah peradaban, Coba bayangkan, jika perangkan etika dan moral pesan tuhan tidak diwujudkan oleh sifat manusia? Apa yang akan terjadi? Mungkin kekacauan peradaban akan melanda kita.

Pemahaman atheism terhadap agama lebih dipahami sebagai fasis hegemoni episteme setiap ilmu. Mereka lupa, Preseden atau Hipotesa yang mereka buat (kaum atheist) adalah preseden meta-theologi juga, yang artinya mereka juga sebetulnya mempercayai adanya Tuhan (sang Kholik) dengan pre-hipotesis/presedent kembali ke preseden baru. Jadi untuk lebih rasionalnya, mreka menempatkan seluruh kitab suci agama diletakan dengan konsepsi ke-ilmiahan positivis. Dan mereka (Atheist) lupa bahwa lagi-lagi epistimologi setiap ilmu berbeda-beda. Intinya memahami tuhan bisa saja dilakukan dengan kacamata positivis dengan mengandalkan dunia indera, namun perlu dicatat, Metodelogi menemukan sebuah kebenaran agama dengan beragamtekanannya masing-masing. Baik dunia empirisme dan rasionalisme—punya sisi kelemahan tersendiri dalam memahami eksitensi Tuhan.

Mendeteksi rangkaian kebesaran Tuhan merupakan suatu kemestian, mengapa? Karena manusia dilengkapi dengan beragam alat untuk mencari apa yang disebut Absolut (yang Maha Esa). Jalan yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia amatlah beragam, oleh sebab itu sikap yang paling sederhana dari kita adalah apresiasi hal tersebut dengan membuka cakrawala kita pada dimensi keragu-raguan. Alhasil satu upaya untuk menangkap eksistensi Tuhan adalah bentuk kejumudan (kaku), karena hal ini merupakan bentuk fanatisme yang tak boleh kita pegang dalam pluralitas agama. Sebab hal demikian memunculkan sarat pertentangan antara satu pihak dengan pihak yang lain. Gunakanlah ragam cara Tuhan untuk menentukan sikap kita dalam memahami Tuhan. Jangan sampai Tuhan digambarkan dengan keterbatasan pengetahuan kita, ini sangat berpotensi pada pada pengetahuan kita akan menghasilkan gambaran tentang Tuhan, kalau itu berhasil tak mengapa? Tetapi kalau tidak berhasl hal ini menjadi sangat problematis.

Friday, 20 February 2015

Adonis, Sastrawan Arab Paling Kritis


Bagi sebagian orang, dunia sastra memang terlihat absurd. Apalagi ketika sastra sudah beralih terlalu dalam pembahasannya, hal demikian membuat orang materialis mulai enggan menanggapinya. Perkembangan sastra khususnya di timur, secara tidak langsung telah menggeser skopnya menjadi romantisme dan materalisme. Hal itu bisa dirasakan ketika novel bergenre fiksi dan roman sangat laku keras di pasaran toko buku Indonesia dari pada novel yang berjeniskan ideologis, agama dan sejenisnya. Memang, dunia materalis lebih memilih kemapanan budaya, sastra, bahasa, agama, sosial, ekonomi dan lainya. Namun bagi sastrawan Timur Arab seperti Adonis melihat sastra lebih dari itu. Bagi Adonis, sastra bukanlah kemapanan. Menurutnya,  perkembangan sastra seringkali berkolaborasi dengan kemapanan sosial, agama, kekuasaan dan uang. Bisa dikatakan kritik sastra Adonis sangat berkontribusi terhadap pemikiran Sastra Arab-Muslim saat ini. Namun siapa sebetulnya Adonis sang kritikus itu? Dari mana dia berasal? Apa pengaruhnya terhadap dunia sastra? Di bawah ini selayang pandang perjalanan Adonis sang kritkus sastra arab-muslim.

Adonis merupakan penyair Arab yang paling berpengaruh di abad ke-20. Karya sastra modernisnya sangat berpengaruh terhadap dampak budaya Arab. Terjemahannya dari bahasa Perancis ke dalam bahasa Arab dan sebaliknya, merupakan edisi kritis terhadap karya penyair lain. Konstibusi Adonis bagi sastra arab, dilakukannya sekitar setengah abad. Dalam perjalannya, kehadiran serta produktifitas karyanya dalam dunia sastra Internasional membuat Adonis pernah dua kali menjadi finalis hadiah Nobel. Saat kecil, ayahnya memerintahkan Adonis untuk menghapal pelajaran agama dan puisi klasik, dengan cepat Adonis hapal. Ketika berumur tiga belas tahun, Presiden terpesona akan puisi Adonis, dan dia dianugrahi oleh seorang Presiden baru Syiria dengan beasiswa untuk mendalami syair yang pernah dibacakannya. Sekitar tahun 1944, Sang Presiden mengirim Adonis ke sekolah Perancis di Kota Tartus. Adonis yang cerdas melompati tingkat-tingkat kelas. Ia menyelesaikan studi di bidang hukum dan filsafat di Universitas Damaskus, dan sempat belajar di Perancis. Tahun 1973, ia memperoleh PhD dalam Sastra Arab dari Universitas St Joseph di Beirut. Karyanya terkenalnya dimulai dalam bahasa Perancis, meskipun ia terus menulis dalam bahasa Arab. Puisi pertamanya muncul di media cetak (1947) berada di bawah Nom de Plume.

 Nama Adonis sendiri sebetulnya bukan nama asli, nama tersebut diberikan oleh Anton Sa’adah, nama aslinya adalah Ali Ahmad Sa’id Asbar. Nama Adonis terambil dari satu dewa legenda Babilonia kuno.  Dewa muda ini merupakan simbol dari keindahan da kebaikan. Ia lahir dari hubungan gelap antara raja Theyas atau Cinyras, raja Siprus dengan putrinya Myrrha. Akibat hubungan itu, Myrrha dikutuk menjadi pohon, dari pohon itulah Adonis lahir sebagai simbol kehidupan baru yang bebas dari dosa-kenistaan memiliki sifat keilahian timur, kebaikan dan kesuburan. Karya puisi tentang Kematian dan kelahiran kembali merupakan visi puitis mengenai transformasi dan pembaharuan (tajdid), bagi Adonis penyajian puisi dianjurkan serta diaktualisasikan dalam ayat bebas. Karya puisi baru '(al-shi'r al-jadid) serta sentimen penutupan revisi 1998 tentang koleksi 1.980 esai, seperti Fatiha li-Nihayat al-Qarn [Pengantar Akhir Abad].

Jika ditelusuri lebih lanjut, publikasi pertama Adonis yaitu berjudul Qalat al-Ard, karya ini muncul di akhir tahun sarjana di Universitas Damaskus, di mana ia belajar filsafat dan mengembangkan antusiasme untuk penulis Perancis. Bacaannya penyair arab Adonis seperti Ilyas Abu Shabaka, yang sangat dihargai Baudelaire, dan Sa'id 'Aql, yang dikagumi Mallarme. Dalam perjalannyam Adonis juga beberapa bulan pernah dipenjara karena kegiatan politik, khususnya untuk mendukung partai Ba'athist dari Antun Sa'ada. Dan hal itu mendorong dia untuk pergi ke Beirut pada tahun 1956 dengan calon istrinya, sastra kritikus Khalida Saleh. Adonis tidak akan kembali ke Suriah, tetapi pengaruh Sa'ada masih ada. Tidak hanya Adonis yang mengembangkan keyakinan politik dan sosial di perusahaan, bagitu juga dengan Sa'ada yang membuat Adonis sadar akan pentingnya mitos dan sejarah sastra. Pada tahun 1957, Adonis meneribitkan Qasa'id ula [Pertama Puisi] dan pada tahun yang sama  dengan penyair Lebanon, kritikus dan penerjemah Yusuf al-Khal, jurnal puisi [Shi’r], yaitu forum surat Arabic. Adonis memiliki sebuah perusahaan penerbitan dan telah mempublikasikan karya-karya penulis lain yang tak terhitung jumlahnya, termasuk Badr Shakir al-Sayyab, Fadwa Tuqan, Nazik al-Mala'ika, Michel Trad, dan banyak lagi.

Terlepas dari kualitas dan volume terbitan jurnal Shi'r itu, dan publikasi Awraq fi al-Rih, yang mengungkapkan upaya awal penyair untuk memadukan Arab dan tradisi sastra Perancis, publikasi itu sekitar tahun 1961, hal itu juga yang akan mendorong karir Adonis ke tahap lebih jauh. Dia menghabiskan waktunya dari 1960-1961 di Paris di mana ia bertemu dengan Aragon, Prevert, Michaux dan lain-lain—untuk memulai kajian komprehensif dengan banyak karya dari kritikus (termasuk Adonis sendiri) mempertimbangkan salah satu karya terbaiknya dan yang paling penting, yaitu Aghani Mihyar al-Dimashqi [The Songs of Mihyar Damaskus]. Dalam karya Aghani, Adonis mencari api baru dari kebakaran tua, berusaha untuk menghidupkan kembali bahasa serta warisan Arab-Islam.

Pada tahun 1961 Adonis juga menyampaikan makalah pada sebuah konferensi di Roma di mana ia mengajukan konsep masa lalu sastra, dan menegaskan bahwa  hal itu adalah tugas penting dari puisi yang menjadi nubuat dan visi untuk menerobos cakrawala yang telah tertutup lama, untuk itu munculkan kembali  ke dunia lebih luas. Ia juga mengkritisi karya The Nahda, yaitu sebuah karya kebangkitan Arab abad ke-19, dan menyebutnya sebuah “ornamen baru dalam warna tua”, konsep itu merupakan kelanjutan dari siklus tradisional di mana tidak ada pelanggaran yang dilakukan, tidak ada jendela untuk dibuka. Seperti Amin Rihani, dan Kahlil Gibran, yang ia kagumi. Tidak puas hanya mengamati ini saja sebagai kritikus, Adonis menghabiskan enam puluhan untuk meninjau kembali kanon dalam tiga volume yaitu berjudul Diwan al-shi'r nya al-'Arabi [Antologi Puisi Arab]. Pada awal tahun delapan puluhan, dengan kolaborasi istrinya, Adonis telah mengedit enam buku puisi dan prosa oleh penulis Nahda.

Pada 1970-an Adonis telah meneribitkan kecenderungannya. Tiga serangkai introspektif puisi pada Waqt bayna al-Ramad wa al-ward (Sebuah Waktu antara Ashes and Roses), buku ini membahas isu-isu kekalahan Arab yang mengakibatkan kerugian tahun 1967 Perang Arab-Israel; mempertanyakan oposisi Timur atau Barat dengan mengambil alih Whitman dan tradisi modernis Amerika; dan dengan mencoba untuk gaya bahasa puisi baru. Ide-ide ajaib dan puisi Mufrad bisighat al-jam '[Singular dalam Bentuk Plural], yang akan menemukan gema kemudian di Abjadiyya Tsaaniyah [A Alphabet Kedua], karya ini menjadikan Adonis dengan reputasi kemuskilannya. Tapi dia tidak hanya menulis puisi saja.  Tesis doktornya, al-Tsabit wa al-mutahawwil [Ketetapan dan Pergerakan], yang ditulis di St. Joseph University di Beirut di mana ia mengajar selama 15 tahun di sana.  Disamping itu, Adonis juga terlibat dalam analisis kontroversial dan komprehensif dari apa yang dianggapnya efek menyesakkan teologi Islam kontrol politik dan artistik. Ini bukan untuk mengatakan bahwa tulisan Adonis 'tidak diinformasikan oleh pengetahuan yang mendalam tentang Islam; memang ia memiliki cinta khusus untuk dimensi esoteris dan mistis. Hal ini tidak mengherankan, karena itu dalam karyanya: untuk menemukan 'Ali, Imam Syiah pertama, personafikasi berulang di karya puisi Adonis. Hadir juga penulis abad ke-10 dan Mistisme al-Niffari, yang berjudul yang Kitab al-Mawaqif wa al-mukhatabat, kitab ini adalah inspirasi dari Mawaqif, jurnal budaya dan sastra berpengaruh didirikan oleh Adonis pada 1968.

Pada 1980-an dan 1990-an, Adonis terus menerbitkan puisi, kritik, edisi, dan terjemahan. Dia meninggalkan Beirut untuk ke Prancis saat perang melanda, dia juga menjadi pelayan di UNESCO dan mengajar di Prancis dan Swiss. Puisi Shahwa Tataqaddam fi Khara'it al-Madda dan koleksi lainnya mengambil banyak pertanyaan lebih dalam. Pertanyaan yang Adonis telah kaji seperti dalam esai al-Shi'riyya al ' Arabiyya, volume prosa pertama Adonis diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Pada tahun 1988, Adonis mengedit dan menerbitkan kembali edisi definitif koleksi awal, karya religious dan mistisme seperti al-Sufiyya wa al-Suriyaliyya [Tasawuf dan Surealisme], di mana ia berusaha untuk menunjukkan bahwa tasawuf dan surealisme Eropa sumber yang sama. Studinya al-Nass al-Qur'ani wa Afaq al-Kitaba yang membahas tentang aturan panggung puitis pemberani. Pada tahun 1993 Adonis menghasilkan karya autobographi pertamanya. Pada tahun 2000 Institut Du Monde Arabe di Paris, memajang puisi Adonis dan karya seninya, menyelenggarakan pameran retrospektif karyanya. Tahun berikutnya Adonis menerima hadiah puisi dan beasiswa seluruh dunia. Dari karya kritis serta puisinya, baru muncul sekitar tahun 2001.


Rujukan Utama

Ed. Sarah Pendergast & Tom Pendergas, Reference Guide to World Literature,. Vol. I, (USA: Gale, 2003), 3rd Edition, hal. 8-9

Monday, 24 December 2012

Dimensi Postmodernisme: Telaah Pemikiran


Diskursus kali ini menjelaskan tentang filsafat postmodernisme dari segi pemikiran kronologis -- sejak awal kemunculannya hingga perkembangan mutakhir. Tujuannya adalah untuk memotret perjalanan sebuah pemikiran secara utuh hingga diperoleh pemahaman komprehensif. Untuk tujuan tersebut, pembahasan dimulai dengan mengulas pengertian postmodernisme, “penyimpangan” modernisme yang menjadi konteks lahirnya postmodernisme, para filsuf postmodernisme, realitas sosial yang ingin dijelaskan, perkembangan terkini pemikiran tersebut, dan kritik terhadap postmodernisme. Sebuah tinjauan kritis diberikan pada akhir tulisan ini.
A. Pengertian Postmodernisme
Awalan “post” pada istilah itu banyak menimbulkan perbedaan arti. Lyotard mengartikan “post” berarti pemutusan hubungan pemikiran total dari segala kemodernan. David Griffin, mengartikannya sekadar koreksi atas aspek-aspek tertentu saja dari kemodernan. Anthony Giddens, mengartikan sebagai wajah arif kemodernan yang sadar diri. Sementara Habermas, satu tahap dari proyek modernisme yang memang belum selesai. Sementara menurut Tony Cliff, Postmodernisme berarti seatu teori yang menolak teori. Akhiran “isme” berarti aliran atau sisitem pemikiran yang menunjuk pada kritik-kritik filosofis atas gambaran dunia, epitimologi, dan ideologi modern. Istilah posmodernisme pertama kali digunakan oleh Frederico de Onis pada tahun 1930-an untuk menyebut gerakan bidang sastra, khususnya sastra Prancis dan Amerika Latin. Onis menyebut tahap modernisme awal antara tahun 1896-1905 dan tahap postmodernisme antara tahun 1905-1914 yang ia sebut “periode intermezzo” atau pertengahan, dan modernitas yang lebih tinggi kualitasnya – dalam tahap ultramodern antara tahun 1914-1932. Kemudian pada 1947, sejarawan Arnold Toynbee, kata postmodern dalam buku A Study of History. Bagi Toynbee, pengertian postmodern adalah massa yang ditandai perang, gejolak sosial, revolusi yang menimbulkan anarki, runtuhnya rasionalisme dan penceraha. Pada tahun yang sama, Rodolf Panwitz menggunakan istilah postmodern dalam bukunya Die Kritis de Europaischen Kultur. Dalam buku ini Panwitz menyebut “manusia postmodern” sebagai manusia sehat, kuat, nasionalitas dan relegius yang muncul dari nihilisme Eropa. Dan Postmodernisme adlah puncak modernisme. Pada tahun 1957, Peter Drucker menulis subjudul Laporan tentang Dunia Pascamodern dalam bukunya The Landmarks of Tomorrow. Drucker memperkenalkan istilah postmodern untuk menyebut perkembangan baru dalam bidang ekonomi yang sudah memasuki zaman pascaindustri/pascakapitalis, dan revolusi gelombang ketiga. Tahun 1960-an, Irving Hole menulis Mass Society and Postmodern Fiction. Hole menyebut sastra kontemporer/postmodern berbeda dengan sastra modern. Menurutnya, sastra postmodern menunjukan kemerosotan disebabkan lemahnya para pembaru dan kekuatan penerobosnya. Baginya, sastra postmodern harus meninggalkan model modern-klasik, dan orang bebas menangkap dan mengapresiasikan kualitas-kualitas khas dari sastra baru. Kemudian astra postmodernme baru menunjukan prestasinya yang penting yaitu saat berhasil menjembatani perbedaaan antara kebudayaan elite (high culture) dengan kebudayaan massa (pop culture). Daniel Bell mengartikan Postmodernisme sebagai kian berkembangnya kecenderungan-kecenderungan yang saling bertolak belakang, bersamaan dengan semakin terbebasnya daya-daya instingtual dan kian membubungnya kesenangan dan keinginan yang akhirnya membawa logika modernisme ke kutub terjauhnya. Itu terjadi terutama melalui intensifikasi ketegangan-ketegangan struktural masyarakat. Frederic Jameson mengartikan postmodernisme adalah logika cultural yang membawa transformasi dalam suasana kebudayaan umumnya. Ia mengartikan tahapan-tahapan modernisme dengan kapitalisme monopoli, sedang postmodernisme dengan kapitaslime pasca perang dunia kedua. Menurutnya, postmodernisme muncul berdasarkan dominasi teknologi teknologi reproduksi dalam jaringan global kapitalisme muli\tinasional kini. Sedangkan Jean Baudrilladr beranggapan bahwa jika modernisme ditandai oleh eksplosi (komodidikasi, mekanisasi, teknologi, dan pasar) maka masyarakat postmodern ditandai oleh implosi (ledakan ke dalam), yakni peleburansegala batas, wilayah dan perbedaan antara budaya universal dan budaya particular, penampilan dan kenyataaan, dan beberapa pososobiner lainnya. Kalau modernitas bisa disebut sebagai proses meningkatnya deferensiasi bidang-bidang kehidupan beserta fragmentasi sosial dan alienasinya dan implosi peleburan segala bidang. Tahun 1970-an, di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan, postmodernisme diperkenalkan oleh Jean F. Lyotard dalam bukunya The Postmodern Condition, A Report on Knowlegde (1979). Lyotard mengartikan “postmodernisme” sebagai “ketidakpercayaan terhadap segala bentuk narasi besar; penolakan filsafat metafisis, fiilsafat sejarah, dan segala bentuk pemikiran yang mentotalisasi…sampai Hegelianisme, Liberalisme, Marxisme, dan isme-isme lainnya. Postmodernisme sambil menolak pemikiran yang totaliter, juga “menghaluskan kepekaan terhadap perbedaan dan memperkuat kemampuan toleransi terhadap perbedaan dan memperkuat kemampuan teloransi terhadap kenyataan yang tak terukur. Prinsipnya lalu bukanlah homologi para ahli, melainkan paralogi para pencipta. Sejak buku ini terbit, perdebatan postmodernisme mencuat hingga kini. Pemikiran Lyotard berkisar tentang posisi pengetahuan di abad ilmiah kita, khususnya tentang cara legitimasikan melalui yang disebutnya “narasi besar” seperti kebebasan, kemajuan emansipasi, kaum proletar, dan sebagainya. Metanarasi itu, menurut Lyotard, telah mengalami nasib yang sama dengan narasi-narasi besar sebelumnya seperti religi, negara-kebangsaan, keunggulan Barat, dan sebagainya, yang sulit dipercaya. Dengan kat lain, dalam abad ilmiah ini narasi-narasi besar menjadi tidak mungkin, khususnya narasi tentang peranan dan kesahihan ilmu itu sendiri. Maka nihilisme, anarkisme dan pluralisme “permainan bahasa” pun merajalela. Yang perlu ditunjukan sekarang adalah kepekaan baru terhadap perbedaan-perbedaan dan keberanian melawan segala bentuk totalisme. Dengan pandangan macam itulah, Lyotard membawa istilah “postmodernisme” ke dalam medan diskusi filsafat lebih luas. Sejak saat itu segala kritik atas pengatahuan universal atas tradisi metafisik, fondasionalisme maupun atas modernisme, diidentikan dengan “postmodern”. Oleh sebab itu, istilah “postmodernisme dibidang filsafat dan ilmu pengetahuan memang ambigu; ia menjadi sekedar istilah yang memayungi hamper segala kritik atas modernisme, meskipun satu sama lain berbeda. Dengan demikian, istilah postmodernisme dipahami sebagai “segala bentuk refleksi kritis atas paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya. 
B. Konteks Sosial yang Melahirkan: “Penyimpangan” Modernisme Munculnya pasca modernisme tidak dapt dilepaskan dari modernisme itu sendiri. Kata modernisme mengandung makna serbamaju, gemerlap, progresif. Pengertian ini tidak berlebihan, karena modernisme berkaitan dengan bentuk-bentuk kebudayaan yang ditandai dengan rasionalisme, positivisme, empirisme, industri, dan kecanggihan teknologi. Dengan ciri-cirinya tersebut, modernisme menyuguhkan suatu keadaan berubah dan tidak pasti. Modernisme selalu menjanjikan pada kita untuk membawa ke dunia yang lebih mapan di mana urusan materi atau kebutuhan jasmani akan terpenuhi, tidak akan ada lagi kelaparan atau kekurangan material, itulah janjinya. Teknologi akan membawa kita ke kehidupan yang serba mudah, cepat, dan lebih baik. John Naisbitt dalam bukunya High Tech High Touch mengatakan, teknologi tak henti-hentinya menawarkan penyelesaian kilat. Teknologi berikrar akan membuat kehifupan menjadi lebih baik, membuat kita pintar, meningkatkan kinerja kita, dan membuat kita bahagia. Rasionalitas, hasil pencerahan akal budi, akan membantu kita menghadai mitos-mitos dan keyakinan-keyakinan tradisional yang tak berdasar, yang membuat manusia tak berdaya dalam menghadapi dunia ini. Barker menjelaskan bahwa akal dapat mendemistifikasi dan menyingkap dunia, mengalahkan agama, mitos dan takhayul. Dalam filsafat dan wacana teoritis mengenai modernitas, “akal” dinobatkan sebagai sumber kemajuan dalam pengetahuan dan masyarakat. Di sini tugas filsafat pencerahan adalah berupaya untuk mencari kebenaran universal, yakni prinsip-prinsip pengetahuan yang berlaku pada waktu, tempat, dan budaya mana pun. Peran pemikiran pencerahan bagi kemajuan hidup manusia adalah mendorong perkembangan ilmu-ilmu, pendidikan universal, kebebasan politik dan keadilan. Pada tarap praktis, terdapat konsekuensi buruk modern, antara lain: pertama, pandangan dualistiknya yang membagi seluruh kenyataan menjadi subjek dan objek, spiritual-materlial, manusia-dunia, dan sebagainay, telah mengakibatkan objektivikasi alam secara berlebihan dan pengurasan alam semena-mena. Hal ini telah mengakibatkan krisis ekologi. Kedua, pandangan modern yang bersifat objektivis dan positivis, akhirnya menjadikan manusia seolah-olah objek juga, dan masyarakat pun direkayasa bagai mesin. Akibat pandangan ini, pola hubungan masyarakat menjadi tidak manusiawi. Ketiga, modernisme memandang ilmu-ilmu positif-empiris mau tak mau menjadi standar kebenaran tertinggi. Nilai-nilai moral dan relegius pun hilang wibawanya. Akibatnya, timbullah disorientasi moral-relegius, yang menyebabkan meningkatnya kekerasan, keterasingan depresi mental, dan disorientasi hidup. Keempat, materialisme, yakni yang orientasi hidup untuk memiliki dan menguasai hal-hal material. Aturan main utama adalah survival of the fittest, atau dal;am skala besar: persaingan pasar bebas. Kelima, militerisme. Kekuasaan yang menekankan dengan ancaman kekerasan adalah satu-satunya cara untuk mengatur manusia. Maka peperangan dengan persenjataan canggih dan nuklir sering dijadikan jalan pintas untuk menyelesaikan konflik antar manusia dan antar bangsa. Akibat peperangan dan kekerasan ini, korban manusia sejak tahun 1990 mencapai lebih dari 120 ribu orang meninggal dunia. Keenam, bangkitnya kembali Tribalisme , atau mentalitas yang mengunggulkan suku atau kelompok sendiri, setelah perang dingin selesai, kini agama menjadi kategori identitas penting yang melegitimasi konflik dan tindak kekerasan. Munculnya fundamentaslime agama adalah contoh dari fenomena ini. Krisis sains modern yang menimbulkan petaka kehidupan manusia, menyadarkan ilmuan untuk merevisi asumsi-asumsi yang mendasari bangunan sains modern. Thomas Khun dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution (1962), mengatakan bahwa pada masa tertentu ilmu normal (normal science) mendominasi aktivitas ilmiah. Tetapi sering dengan perkembangan dan perubahan, ilmu normal tidak dapat lagi menjelaskan perkembangan yang terjadi. Inilah yang kumudian melahirkan krisis ilmu pengetahuan. Krisi ini menjadi cikal-bakal terjadinya revolusi ilmiah. Menurut Khun, revolusi ilmiah itu pertama-tama menyentuh wilayah paradigma, yaitu cara pandang terhadap dunia dan contoh-contoh prestasi atau praktik ilmiah konkret. Krisis metode ilmiah dan lahirnya revolusi, dapat digambarkan tahap-tahapnya sebagai berikut: Tahap I: paradigma ilmiah membimbing dan mengarahkan aktivitas ilmiah dalam masa ilmu normal (normal science). Di sini ilmuan menjabarkan dan mengembangakan paradigma sebagai model ilmiah. Selam menjalankan aktivitas ini, para ilmuan menjumpai berbagai fenomena yang tidak dapat dijelaskan dengan paradigma yang digunakan, yang dinamakan anomaly atau krisis. Anomali adalah suatu keadaan yang memperlihatkan adanya ketidakcocokan antara kenyataan (fenomena) dengan paradigma yang dipakai. Tahap II: menumpukan anomali menimbulkan krisis kepercayaan para ilmuan terhadap paradigma. Paradigma mulai diperiska dan dipertanyakan. Para ilmuan mulai keluar dari jalur ilmu normal. Tahap III: para ilmuan bisa kembali lagi pada cara-cara ilmiah yang sama sembari memperluas dan mengembangkan suatu paradigma yang dipandang bisa memecahkan masalah dan membimbing aktivitas ilmiah berikutnya. Proswes peralihan dan paradigma lama ke paradigma baru inilah yang dinamakan revolusi ilmiah. Skema Ketiga tahap tersebut sebagai berikut: 
C. Filsuf awal posmodernisme Awal mula tumbangnya modernisme dan munculnya posmodernisme sebenarnya dapat dilacak pada filsafatnya Soren Keirkegaard (1813-1855), yang menentang rekonstruksi–rekonstruksi rasional dan masuk akal yang menentukan keabsahan kebenaran ilmu. Kriteria kebenaran Ilmu yang berlaku bagi dunia modern adalah yang rasional dan objektif. Kierkegaard justru berpendapat sebaliknya, bahwa kebenaran itu bersifat subjektif, “truth is subjectivy”. Pendapat tentang “kebenaran subjektif” ini menekankan pentingnya pengalaman dan relativitas, yang dialamioleh individu-individu. Sementara itu, Horkheimer dan Adorno dalam buku Dialectic of Enlightment (1979), menegaskan bahwa “rasionalitas pencerahan adalah logika dominasi dan penindasan”. Disinyalir bahwa di dalam rasionalitas sampai melalui sains yang membawa misi untuk menguasai alam, terkandung hasrat untuk mengendalikan dan menguasai umat manusia lain. Ewat penemuan-penemuan, misalnya miseu dan kompas, suatu negara dapat menginvasi negara-negara lain, penemuan mesin uap dan revolusi industri telah mengakibatkan penderitaan yang begitu banyak orang yng harus menjadi pekerja pabrik, penemuan di bidang listrik, minyak bumi dan telegraf, justru digunakan untuk memperkuat kontrol dari pusat sekaligus melenyapkan inisiatif dari bawah, dan masih banyak lagi. Horkheimer dan Adorno mengungkapkan dilema rasionalitas dengan pernyataan seperti ini: ” Akal pencerahan telah mengubah rasionalitas menjadi irasionalitas dan penemuan karena ia memberangus cara-cara berpikir yang lain dan mengaku sebagai satu-satunya dasar kebenaran. Bukan efek pencerahan yang diragukan, tetapi juga klaim terhadap kebenaran yang bersifat universal pun ditolak. Misalnya, Neitzche tidak ragu-ragu dengan tegas menyatakan bahwa keyakinan terhadap adanya pengatahuan murni tidak dapat diterima karena akal dan kebenaran tak lebih dari sesuatu yang cocok bagi suatu ras dan spesies tertentu. Di sini Neitzche (1844-1900) jelas menolak pengetahuan yang kebenaran yang berlaku bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, karena pengetahuan itu bukan persoalan penemuan sejati, melaikan perkara konstruksi interpretasi-interpretasi tentang dunia yang benar. Kebenaran juga bukan merupakan sekumpulan fakta karena yang mungkin dilakukan hanyalah interpretasi dan “dunia bias diinterpretasikan dalam cara-cara yang tak terbatas jumlahnya. Keraguan Neitzche untuk mengakui universalitas pengetahuan dapat kita telusuri ke masa sebelumnya sampai pada kaum skiptis. Kaum skiptis, misalnya kaum sophis, memang menolak adanya pengetahuan universal. Bagi mereka, ”man is the measure of all things” (manusia norma dari segala sesuatu). Baik dan jahat, cantik dan buruk tergantung pada kebutuhan, kondisi, keperibadian orang tersebut. Tidak ada norma umum untuk menentukan itu. Jika sering kali fakta dijadikan bukti atas kepastian suatu pengetahuan, namun keyakinan kaum skiptis tetap tidak tergoyahkan karena mereka tetap meragukan cara kita tahu bukti itu benar dan bukan hanya tipuan. Intinya, secara radikal kaum skeptis menolak adanya pengetahuan. Demikian juga dengan Neitzche yang menolak akal pencerahan dan pengetahuan universal. Lewat tulisan-tulisannya, Neitzche menaruh perhatian besar terhadap kebudayaan modernitas. Pandangan Neitzche terhadap kebudayaan modern bersifat reduksionis. Modern atau modernitas dipandangnya sebagai musuh bagi kehidupan dan insting-insting semenjak zaman renaissance dan selanjutnya, yang dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan seperti pencerahan, romantisisme, demokrasi, utilitarianisme, ilme pengetahuan, dan sosialisme. Kekuatan-kekuatan tersebut merupakan suatu domestikasi kekuasaan dalam keubudayaan yang kian universalistic. Dampaknya adalah berupa suatu kebudayaan yang kehilangan keyakinan akan kemampuannya sendiri untuk mencipta dan menilai, suatu kebudayaan nihilisme Eropa di penghujung abad ini. Neitzche melihat modernitas sebagai peningkatan kondisi dekadensi di masa tipe-tipe tinggi dilevelkan oleh rasionalisme, liberalisme, demokrasi, dan sosialisme dan dimana insting mengalami penurunan tajam. Pembahasan Neitzche yang paling tajam terhadap nihilisme modern terdapat dalam catatan-catatannya yang sebagian diungkapkan dalam buku The Will to Power (kehendak untuk berkuasa, 1901). Menurut Neitzche, nihilisme adlah kondisi di mana ”nilai-nilai mendevalusi dirinya sendiri”. Sebagaimana dipaparkan Neitzche dalam Thus Spake Zarathustra, dalam kaitannya dengan kebudayaan barat, pertama-tama, ini berarti Tuhan Telah Mati. Singkatnya, nihilisme tak lain adalah “kondisi postmodern”, yakni berakhirnya seala metanarasi. Neitzche memaklumkan situasi ini dengan berteriak-teriak: “Tuhan telah mati! Kita telah membunuhnya”. Ucapan yang kemudian menjadi termasyhur ini dipakai Neitzche untuk mengawali perang melawan setiap bentuk jaminan kepastian yang sudah mulai pudar. Jaminan kepastian yang pertama adalah Tuhan sebagaimana diwariskan oleh Kristen. Jaminan-jaminan kepastian lainnya, menurut Neitzche, adalah model-model Tuhan seperti pengetahuan, seperti ilmu pengetahuan, prinsip-prinsip logika, rasio, sejarah, dan kemajuan. Untuk merumuskan runtuhnya dua m’acam jaminan kepastian itu, Neitzche cukup dengan mengatakannya dengan kalimat “Tuhan telah mati”. Dengan memproklalairkan “Tuhan telah mati”, Neitzche berpandangan tidak ada kebenaran yang absolut lagi. Manusia harus bebas dari segala makna absolut yang menjamin dirinya dan dunianya. Manusia sendiri harus menciptakan dunia dan memberinya nilai, yakni nilai yang tidak mengandung kebenaran mutlak atau tata dunia moral. Kalau suatu nilai atau kebenaran sudah mengarah menjadi absolut, manusia harus meninggalkannya. Neitzche mengibaratkan, kalau sampan kita sudah aus dan tak dapat lagi digunakan untuk berlayar, sampan itu harus dihancurkan dan diganti dengan sampan yang baru. Menurut Neitzche, hanya dengan cara ini kita dapat bebas dan terhindar dari mengabsolutkan sesuatu. Edmund Husserl (1859-1938), juga dipandang sebagai tokoh penting perintis postmodernisme. Dalam karyanya The Idea of Phenomenology, Husserl mencoba mengatasi persoalan “subjek-objek” dengan cara membongkar secara efektif paham tentang “subjek Epitimologis” dan “dunia objektif”. Sejak itu, persoalam epistimologi dan juga tentang “ilmu” dan “keilmiahan” terus-menerus dipertanyakan. Dalam pencarian ini, Husserl menemukan pondasi absolut pengetahuan yang murni, yakni dalam subjektifitas transsendental. Subjektifitas transsendental menurut Husserl, terletak pada Lebenswelt, yakni aliran kehidupan langsung sebelum terefleksikan, lapisan dasar y'ang kemudian memunculkan temasisasi dan teoritisisasi ilmiah. Dengan demikian, yang disebut dengan “dunia objektif”. Sebetulnya hanyalah penafsiran tertentu saja atas dunia pengalaman hidup sehari-hari (Lebenswelt) yang mengatasi dan mendahului kategori-kategori objektifistik maupun subjektifistik. Gagasan Husserl tentang “dunia-hidup” tadi menggerogoti kalim-klaim ilmu dan keilmiahan yang seolah tak tergoyahkan. Metode ilmiah yang dirancang sebagai hasil dari rasionalitas proyek pencerahan (The Enlightenment Project) yang dibanggakan dan diharapkan dapat mengatasi persoalan manusia dan menghantarkannnya ke kehidupan yang diidam-idamkan, terus dilucuti satu-persatu sehingga keterbatasan-keterbatasan metode ilmiah berhasil ditemukan. Penerus-penerus Husserl berhasil menemukan lebih dari yang terpikirkan olehnya. Di samping kierkhegaard, Nieztche, dan Husserl, Martin Heidegger (1889-1976) juga dipandang sebagai perintis postmodernisme. Heidegger sangat kritis terhadap filsafat modern tentang manusia. Manusia bukan segumpal substansi berpikir yang sadar diri, atau makhluk yang kerjanya memikirkan dan merumuskan hal-ihwal; tetapi desain, ia “ada dalam dunia”. Hubungan manusia dengan kenyataan tidak semata-mata hubungan intelektual, subjek memahami objek. Kontribusi pokok pemikiran Heidegger bagi postmodernisme adalah langkah awalnya membongkar tradisi filsafat barat yang pada dasarnya berpuncak pada filsafat modern universalisme, representasionalisme, dualisme, dan deialiktika dalah pilar-pilar filsafat modern yang dirobohkan Heidegger. Robohnya pilar-pilar itu membuka pintu bagi lahirnya “pemikiran” yang terlupakan dari pemikiran modern. Pengetahuan, moral, sejarah, dan politik tidak lagi tunggal. Lokalitas pendapatkan penghargaan tersendiri. Kalaupun ingin mendapatkan patokan universal, jalan yang dilalui harus melalui konsesus. Pengatahuan bukan lagi soal pendasaran melainkan percakapan. Fokus filsafat Heidegger terletak pada dua tema. Pertama, Heidegger menperlihatkan sesuatu anti-kartesianisme, yakni persoalan dualisme pikiran-tubuh, dan pembedaan antara subjek dan objek. Kedua, filsafat Heidegger sebagian besar adalah pencarian terhadap autensitas, atau apa yang mungkin lebih tepat dilukiskan sebagai “kepunyaan sendiri”, yang dapat dimengerti dengan penjelasan sebagai keutuhan. Pencarian terhadap autensitas ini akan membawa kita ke dalam persoalan-persoalan abadi terhadap hakikat diri dan arti kehidupan. Kritik-kritik postmodernisme di atas secara umum dapat dipahami sebagai gerakan untuk menuntut agar narasi-narasi universal atau metanaratif memberi jalan pada lokalitas. Setiap pengetahuan memiliki ruang kopetensinya sendiri. Penolakan terhadap klaim totalitarianisme, mengadilkan pencerahan dalam pemikiran postmodernisme, seperti munculnya konsepsi heterogenitas, perbedaan, budaya lokal, etnis, ras, dan lain sebagainya. Kelompok tertindas dan terpinggirkan kelompoknya dan lain-lain.