Translate

Makna Dibalik Kegagalan

Kata “Gagal” seringkali diartikan peyoratif/negatif, tak ayal balutan serta bungkusan yang menyelimuti kita ditopang dengan beragam cara. Apapun itu, yang penting kita jauh dengan kata “gagal”. Namun apa makna dibalik kegagalan...

Bukan Mengelola Waktu, Tetapi Mengelola Energi

Saat ini mengelola waktu menjadi tren tersendiri dari kita. Bahkan hidup di era digital seperti ini, mengelola waktu bukan saja menjadi prioritas utama tetapi lebih dari itu. Namun banyak dari kita yang hidupnya mati-matian untuk mengelola waktu tetapi...

Implikasi Putusan Praperadilan Kasus BG, Bukti Nyata Hukum Indonesia Tak Jelas

Pasca putusan praperadilan perkara penetapan kasus tersangka BG yang diajukan oleh KPK dalam kasus korupsi, opini pun berhembus seperti terpecah belah dua dalam dunia hukum. Di tambah lagi beragam opini.....

Adonis, Sastrawan Arab Paling Kritis

Adonis merupakan penyair Arab yang paling berpengaruh di abad ke-20. Karya sastra modernisnya sangat berpengaruh terhadap dampak budaya Arab.....

Lintasan Sejarah Komunisme di Dunia Islam

Persinggungan antara komunisme di barat maupun di wilayah timur, terkhusus di Dunia Islam terdapat titik persamaan konseptual yaitu menolak terhadap kolonialisme barat. Seperti yang kita ketahui, hampir rata-rata di dunia Islam paruh abad 18-19-an, telah terjadi pergeseran antar ideologi.

Showing posts with label Science. Show all posts
Showing posts with label Science. Show all posts

Friday, 26 June 2020

3 Alasan Mengapa Harus Menggunakan Protokol Kesehatan di Era New Normal

Era baru, tananan baru, pola hidup baru menjadi tak terelakan di tengah wabah yang terus menggila. Apakah tatanan baru  sama dengan babak pra pandemi? Tentu saja tidak, karena wabah ini menghancurkan segala lini, yang jelas era ini membuat semua komponen sendi pola kehidupan berubah total. 

Di era ini semua tatanan harus melepaskan atribut lama sebelum vaksin ditemukan. Lalu apakah kita harus tetap konsisten mematuhi protokol kesehatan ditengah wabah covid-19? Jawaban iya, karena kasus covid-19 yang terus meningkat di seluruh dunia. 

Dilansir dari data worldmeter pertanggal 23 Juni 2020, tercatat 9,229,504 orang dinyatakan positif virus corona. Ditambah dengan tingkat kematian juga yang cukup tinggi yaitu sebanyak 475,164 dan juga tingkat kesembuhan yang kalah tinggi sebanyak 4,971,800 orang. Kondisi ini memang tidak perlu membuat kita panik, tapi kita juga harus mawas diri,  selain karena kasus yang semakin tinggi tetap juga karena:

PERTAMA, wabah ini tak memandang orang sehat, setengah sehat ataupun sakit, dia bisa tertular atau jadi potensi penular, jadi jangan bebani tenaga medis dengan beban yang tak berimbang. Hargai mereka yang berjibaku menyelamatkan banyak pasien.

Mereka rela tertekan dan bertaruh jiwa raga demi menyelamatkan nyawa manusia. Saya rasakan kekhawatiran itu tiap kali istri bercerita bagaimana takutnya bekerja di ruang ICU Rumah Sakit di tengah wabah covid-19.

Selain merasakan rumitnya menggunakan alat kontrol pasien, juga harus menggunakan pakaian ala astronot, yang notabene nya sangat tidak enak dipakai, gerah, panas, dll. Ditambah adanya kasus pasien covid-19 yang tak jujur, membuat takut seluruh tenaga medis. 

Ditambah lagi ketika pulang ke rumah harus semprot sana harus bersih sini, ribet pokonya. Tapi saya bilang, "yang kamu kerjakan itu kerja kemanusiaan dan ganjaranya tidak main-main, itu upaya menyelamatkan manusia dan jarang orang mendapatkan posisi itu, maka dari itu bekerja untuk kemanusiaan jangan takut dan bersedih selagi kita ikuti protokol kesehatan dan jangan lupa berdoa. Meski dalam hati berteriak "ya Tuhan jaga dia dari wabah ini, jauhkan dari segala marabahaya."

KEDUA, saya sadar betapa ringkihnya kondisi sistem kesehatan Indonesia, baik dari sebaran tenaga medis yang tidak seimbang dengan jumlah penduduk, belum lagi alat kesehatan, faskes yang kurang, ditambah jumlah pasien sakit yang beraneka ragam, jelas akan menyulitkan fokus penanganan medis pasien cov-19. 

Selain itu, ditambah regulasi yang dikeluarkan pemerintah Indonesia tidak jelas dan absurd, antara menyelamatkan nyawa manusia atau menjaga kapitasi ekonomi. Terlihat saat pemerintah mengeluarkan perpu tentang penangan covid-19 dan mengeluarkan kebijakan PSBB. 

Pasal yang sangat membuat sakit hati yaitu soal impunitas pembuat kebijakan, itu tertuang dalam pasal 27 Perpu, yang menunjukkan bahwa lembaga keuangan berpotensi kebal hukum lantaran tidak bisa dituntut, baik secara pidana maupun perdata. 

Seperti seluruh anggota dan sekertaris komite stabilitas sistem keuangan (KSSK) dan Pejabat atau pegawai kementerian keuangan, pihak Bank Indonesia, OJK, LPS dan pejabat lain yang termasuk di dalamnya. 

Belum lagi soal yang berkaitan dengan pelaksanaan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini, tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana jika dalam melaksanakan tugas didasarkan pada iktikad baik dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pengaturan ini tidak perlu ditegaskan dalam dalam pasal perpu karena pada prinsipnya ketika terjadi penyalahgunaan wewenang/abuse atau terjadi kerugian negara maka yang akan diuji di pengadilan adalah pembuktian apakah negara betul-betul beritikad baik saat mengeluarkan kebijakan ini. 

Pada prinsipnya hampir sama dengan doktrin business judgment rule (BJR), yang menegaskan pada dasarnya bahwa atasan atau direksi dalam sebuah lembaga harus menerapkan prinsip kehati-hatian dengan itikad baik dan sesuai dengan batas wewenangnya. J

ika batas wewenangnya diluar dari amanat konstitusi dan peraturan perundang-undangan maka itu jelas sudah beritikad tidak baik, apalagi jika meninggalkan kerugian negara. Jelas urusanya adalah pidana, yaitu korupsi. Meskipun dikatakan sebagai upaya penyematan perekonomian dari krisis. 

Belum lagi soal regulasi PSBB yang melewati amanat UU Kekarantinaan, membuat banyaknya kerugian yang harus ditanggung oleh masyarakat secara ekonomi, sosial, pskologi dan lain lain. 

Ditambah kabar Uji Materi MK soal perpu ditolak karena telah kehilangan objek gugatan. Hal ini membuat saya skiptis/ragu, wabah ini akan berakhir secara cepat, mengingat kasus yang terus meningkat.

KETIGA, Ini bukan soal takdir, tapi bagaimana soal mengelola pemahaman takdir. Dalam diskursus Islam, soal takdir telah lama Jadi perdebatan, namun yang perlu mendapat perhatian mengenai konsepsi takdir Tuhan sesuatu yang tidak terlihat alam metafisik/ghaib. 

Oleh karenanya ikhtiar dan doa yang menjadi penting yang harus ditekankan sesuai prinsip menjaga kehidupan manusia jauh lebih baik, bahkan diumpamakan ketika menjaga kehidupan seseorang seperti memelihara kehidupan manusia semuanya, ini masuk prinsip alam asbab (causalitas) dan doa masuk alam tajrid. 

Lebih jelasnya dalam al-Qur'an surat Almaidah: 32 dan surat Ar-Ra’d/13:11.

..مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا
.....barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya....

..إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ..
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendirii.

Dalam kaidah Ushul fiqh:
إِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَصَالِحُ قُدِّمَ اْلأَعْلَى مِنْهَا وَإِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَفَاسِدُ قُدِّمَ اْلأَخَفُّ مِنْهَا
"Jika ada beberapa kemaslahatan bertabrakan, maka maslahat yang lebih besar (lebih tinggi) harus didahulukan. Dan jika ada beberapa mafsadah (bahaya, kerusakan) bertabrakan, maka yang dipilih adalah mafsadah yang paling ringan......"

إذا اجتمع الضرران أسقط الأكبر للأصغر
" Jika ada dua mudharat yang berkumpul, maka yang lebih besar harus digugurkan, untuk melakukan yang lebih kecil..."

الضرورات تبيح المحظورات
"Kondisi darurat memperbolehkan sesuatu yang semula dilarang..."

Jadi siapapun kita, apapun profesinya, jika masih menghargai kehidupan mohon terapkan protokol kesehatan.  Meskipun ada beberapa aktivitas yang tidak bisa dilakukan di rumah namun sedapat mungkin menggunakan standar protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, jaga jarak, sering mencuci tangan, tidak menyentuh mulut, hidung dan mata sebelum bersih, jauhi keramaian, lakukan ibadah bisa di rumah. Dengan jalan ini semua, kita berharap semoga wabah ini cepat berlalu  dan vaksin segera ditemukan secepat mungkin. Amin

Monday, 16 March 2015

Mengapa Waktu Cepat Berlalu?


Mengapa waktu begitu cepat berlalu? Sebuah pertanyan yang mungkin sering kita ajukan saat momen atau tragedi menghampiri, tatkala kita digandrungi rasa sedih, senang atupun gembira. Kita pasti tahu bahwa dalam sehari terdapat 24 jam dan 168 jam seminggu. Kita juga tahu bawah periode-periode waktu ini kadang-kadang tampak seperti berpacu tanpa peringatan sedikit pun, sehingga waktu yang sebenarnya kita jalani seolah-olah terasa jauh lebih sedikit. Ketika kita sedang menghadapi tenggat waktu, menit, jam, hari bahkan tahun tampak berjalan lebih daripada ketika kikta sedang mengikuti sebuah aktivitas yang membosankan semua indera kita. Dalam masyarakat modern seperti sekarang, yang serba sibuk serta terlalu banyak jam kerja yang rasanya seperti berjalan kurang dari enam puluh menit. Serasa waktu begitu cepat berlalu.
Bila kita harus menghabiskan waktu satu jam dengan teman lama atau seseorang yang benar-benar anda rindukan untuk bertemu, misalnya anda merasa seolah-olah telah menempuh perjalanan begitu jauh dalam satu jam saja, coba bandingkan dengan jumlah cepatnya satu jam berlalu ketika anda menonton komedi di sebuah televisi. Ingat! Kutipan Peter Burns dalam bukunya Manage Your Time, dikatakan bahwa semakin banyak tugas dan aktivitas yang anda selesaikan dalam waktu tertentu, rasanya semakin cepat waktu berlalu—dan semakin kecil kemungkinan kita bisa menikmati waktu. (Peter Burns, Manage Your Time, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2008, hal. 3).
Pertanyaan yang patut diajukan adalah mengapa kita tidak merasa senang bila waktu kita berjalan begitu cepat? Secara psikologis, manusia telah terbentuk puluhan ribu bahkan jutaan tahun untuk melalui proses yang begitu panjang—hingga mencapat titik tertinggi dalam menentukan tingkat rasio atau bentuk spesiesnya. Akibatnya kita seolah merasa hilang dalam waktu (dure) dan merasa bosan pada waktu yang selalu berulang dan panjang. Sementara itu, masyarkat kontemporer bergerak semakin cepat, hingga pada akhirnya kita lupa akan makna waktu itu sendiri (time).
Proses tersebut di atas dikatakan oleh seorang filosof sebagai batas antara waktu secara time dan dure. Apa maksud dari seorang filosof tersebut, mudahnya diilustrasikan ketika kita sedang menunggu sesuatu dengan dibatasi waktu secara temporal dengan yang tidak dibatasi. Ada dua respon yang didapat dari kita. Pertama tingkat rasa (felling responsive) dan tingkat keteraturan (absolute grade). Jika tingkat rasa berkaitan dengan apa yang diarasakan pada suasana aktivitas, sedangkan tingkat keteraturan direspon dengan jumlah keseluruhan (kalkulatif) seperti  detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya.
Dalam teori Resonansi Schumann menjelaskan rangkaian kecepatan frekuensi waktu diibaratkan dengan detak jatung dunia, hal tersebut dapat diukur pada skala 7.8 hertz. Nilai ini dianggap tetap dan konstan pada waktu itu. Namun, pada 1980-an, terjadi perubahan tiba-tiba. Sebab, pada tahun itu Resonansi Schumann diukur di atas 11 hertz. Bahkan laporan terbaru telah mengungkapkan bahwa angka ini bahkan akan meningkat lagi. Perubahan dalam Resonansi Schumann; frekuensi menunjukkan mempercepat waktu. Dengan demikian, waktu 24 jam  terasa seperti 16 jam atau kurang.

Berbeda dari Schumann, beberapa filosof menyatakan kurang lebih, waktu sendiri merupakan proses yang begitu panjang dalam rangka proses pembelajaran dengan melewati batas absolute dan relative. Apakah bisa aktivitas kita melewati batas dari sifat waktu tersebut? Para ahli terjadi pertentangan dalam hal ini, bagi golongan absolutis seperti Newtonian, bahwa gerak manusia dicipatakan dengan kalkulasi ruang dan waktu. Jadi sangat tidak mungkin jika gerak aktivitas manusia melewati batas kecepatan ruang dan waktu yang telah ada. Bagi golongan lain, bahwa waktu bisa ditembus dengan batas serta sekat-sekat mengitarinya, karena waktu sendiri tercipta bukan saja berasal dari sifat ruang dan waktu. Coba bayangkan jika kita keluar dari zona gravitasi bumi, apakah kecepatan cahaya yang dipantulkan dan didapatkan akan sama dengan zona yang ada ruang berbeda. Apakah ini yang disebut titik menembus batas waktu. Mungkin inilah sedikit ulasan mengapa waktu terasa bagitu cepat, karena ia bisa diarasakan oleh dua persepsi. Persepi matter yang nyata (indrawi) sedangkan non-matter ia yang diarasa (perasaan). 

Sunday, 6 July 2014

Telaah Pemikiran Morphogenetik Rupert Sheldrake


Seiring berkembangnya zaman dan pemikiran manusia pertengan abad ini, keniscayaan pertarungan maupun proses pengintegrasian disiplin ilmu menjadi tak terelakan. Pertarungan serta proses reintegrasi ilmu terasa hingga kini menjadi semakin sempit. Beberapa fenomena besar dunia diteropong dengan beragam paradigma disiplin ilmu. Begitu juga dengan problematika hidup manusia—menjadi konsen tersendiri bagi sebagian jenis keilmuan, bahkan mencuat pula pemecahan persoalan hidup dari lintas disiplin keilmuan. Tak jarang satu disiplin ilmu menjadi parameter disiplin ilmu lain, begitupun paradigma dan konsepsi suatu ilmu—sering ditemukan berbagai kemiripan serta kesamaan perspektif dari hasil yang  ditelaahnya.[1]
Hal itu yang pernah dilakukan Rupert Sheldrake,[2] seorang ahli scientis sekaligus pengamat disiplin ilmu sosial. Sebagai seorang scientis, Rupert Sheldrake morphogenetic[3] dari bidang keilmuan biologi menjadi pula paradigma perkembangan sosial kehidupan manusia. Pengamatan tersebut bisa dilihat dari perspektif Rupert Sheldrake tentang kehidupan yang dimaknai sebagai bentuk-bentuk biologis diciptakan dan dipeliharan dalam bidang-bidang morphogenetic—perkembangan organisme. Lebih lanjut menurutnya, bidang-bidang tersebut bersifat non-lokal—meciptakan struktur tak terlihat yang diikuti molekul, sel serta organ saat mereka berubah bentuk dan mengkhususkan diri untuk menjadi mahkluk hidup tertentu.
Rupert Sheldrake juga berpendapat bahwa perkembangan organisme itu selalu berkembang dan berevolusi. Jauh sebelumnyanya, pendapat science seperti ini pernah dilontarkan pula oleh seorang pencetus teori evolusioner Darwin. Begitupun dengan R. Sheldrake yang menafsiri teori morphogenetic selalu berevolusi, hal tersebut terjadi karena seiring berjalannya waktu maka setiap generasi spesies tidak hanya dibentuk oleh satu bidang, namun juga mengubah bentuk pula untuk bertahan hidup dalam lingkungan.[4]
Hipotesa Sheldrake pun dengan menggunakan perumpamaan seekor ikan yang hidup dalam habitat dalam air (bologis), perlu berevolusi untuk mendapatkan sirip baru—supaya bisa berenang lebih cepat atau dengan bahasa penulis autoplastis (menyesuaikan diri). Seperti yagn dikutip dalam bukunya James Redfield, The Celestine Vision—dikatakan bahwa kehendak ikan menghasilkan perubahan dalam bidang morphogenetic, ini tampak ketika keturunannya memiliki sirip tepat seperti yang diinginkan.
Teori ini pula membuka cakrawala episteme baru dalam bidang science, bahkan menurut James Redfield bahwa transformasi ini pula bisa bertransformasi bukan saja hanya kepada karakteristik tambahan mahkluk seperti ikan atau tumbuhan tetapi bisa juga yang lainnya. Seperti evolusi ikan tertentu mencapai batas habitat di air, namun ada beberapa keturunan ikan yang ternyata merupakan pembeda dari spesiesnya; amfibi, ikan toke, dan sebagainya.
Dari beragam perkembangan teori evolusi science di atas, ternyata menurut Sheldrake memungkinkan terjadi pula pada evolusi kehidupan sosial manusia. Sepanjang sejarah, kehidupan manusia seperti makhluk hidup lainnya, dimana selalu mendorong lapisan luar pengetahuan manusia—dan selalu berjuang untuk berevolusiagar mendapatkan pemahaman yang lebih utuh tentang lingkungan serta aktualisasi potensi dalam diri kita. Pada waktu tertentu, tingkat kemampuan dan kesadaran manusia dapat  dianggap sebagai hasil dari bidang morphogenetik yang sama. Ketika masing-masing individu mengaktualisasikan kemampuan-kemampuan tertentu—berlari lebih cepat mengetahui lebih cepat, mengetahui apa yang dipikirkan orang lain, mendapatkan intuisi.[5] Kemajuan tersebut dapat dialami bukan hanya bagi perkembangan morphogenetik tetapi juga bagi seluruh manusia.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, perkembangan teori science yang notabene-nya berkiblat pada teori positifistik serta bebas nilai—pada perkembangannya juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal di luar sana. Hal itu juga memungkinkan pengembangan paradigma teori social yang memunculkan perspektif lintas disiplin ilmu. Proses pengintegrasian ilmu secara sadar, disatu pihak memunculkan sejumlah problematika, namun tujuan lain utama dari hal itu adalah membuka berbagai macam paradigma guna memahami persoalan hidup manusia.



[1] Beberapa pemikir memperdebatkan tentang teori sosiologi ataupun sejenisnya harus mandiri dan terlepas dari perangkap paradigma positifistik-reduksionis. Lihat dalam bukunya Geger Riyanto, Peter Berger: Perspektif Metateori Pemikiran, (Jakarta: LP3ES, 2009), hal. 10
[2] Rupert Sheldrake seorang Ahli Biologi dari Inggris, banyak pemikiran science-nya banyak dipengaruhi oleh pandangan filsafat, dimana konsep yang paling terkenal darinya adalah perubahan paradigma terhadap ilmu pengetahuan. Lihat biografinya dalam http://www.sheldrake.org/about-rupert-sheldrake/autobiography.
[3] Morphogenetic adalah suatu proses perubahan dan perkembangan karakteristik yang unik daripada kehidupan organisme.
[4] James Riedfild, The Celestine Vision , Alih Bahasa Rosemary Kesauly, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), hal 95
[5]James Riedfild, The Celestine Vision , Alih Bahasa Rosemary Kesauly, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), hal 96

Thursday, 25 July 2013

Relevansi Peristiwa Nuzulul Qur’an dengan Memaknai Eksistensi Tuhan

Hiruk pikuk dunia modern seakan merubah pola pikir manusia yang bercirikan sifat ke-Tuhanan (shifah lahut) menuju alam kebinatangan (alam nassut). Disadari atau tidak, dunia modern telah menggeser paradigma kita dalam ber-Tuhan. Gambaran tersebut bisa dirasakan dalam kompleksitas antara science, business dan teknologi sedang menjajaki spiritualitas manusia dalam kesadaran palsunya sebagai manusia yang bertuhan (homo religious). Ekonomis, Stylis, Pragmatis, dan sebagainya merupakan simbol anak modern dalam menjama manusia. Yang pada akhirnya kita kehilangan makna manusia itu sendiri.

Dalam sejarah pemikiran manusia, seperti ditegaskan oleh Karen Armstrong, sejak mula pertama umat manusia sudah mampu me nangkap tentang adanya satu kekuatan yang mengatasi dan Maha Kuat,[1] namun satu kekuatan tersebut terjaring oleh bingkai-bingkai modernitas pemahaman tentang Tuhan yang dibatasi oleh materialitas. Alhasil kejumudan dalam menemukan sesuatu yang benar (baca: Tuhan) terkikis oleh episteme spekulatif. Beragam cara mencari sesuatu yang Maha benar pun telah dilakukan sebelum agama samawi (baca: Yahudi, Kristen, Islam) hadir secara instutisional. Mereka yang menamakan dirinya sebagai “Sofis” seperti Thales, Anaximandros, Anaximenes, Epikurus, Phytagoras, Sokrates, Plato, Aristoteles, dan sederet nama yang telah berkotribusi dalam pembuatan metode dalam memahami Sang Maha Absolut (Tuhan). Bahkan pasca agama telah melembaga pun tradisi memahami sesuatu yang benar menjadi konsen khusus oleh para pemikir, salah satunya dari mereka adalah Ibn Sina, al-Farabi, al-Ghazali, al-Miskawih dan banyak lagi yang lainnya.

Berikut ini merupakan alat serta metodelogi menemukan sebuah kebenaran agama dengan beragam tekanannya masing-masing. Pertama ragam episteme empiris—menemukan kebenaran dalam bentuk materialis yang bisa dispesifikasi dalam penalaran indrawi atau pengalaman empirisme seseorang. Batasan metode ini secara sederhana bisa menggunakan perangkat alat indra kita dalam menentukan sebuah kebenaran. Kedua ragam epistem rasionalis— yang titik tekanannya menggunakan silogisme (kesimpulan) berdasarkan akal budi manusia ketika berhadapan dengan objek yang diterka baik rasionalis analitik maupun sintetik. Terakhir adalah ragam epistem yang titik tekanannya berdasarkan hati nurani esoteris.

Bukan untuk menyederhanakan Ragam episteme di atas—tetapi ragam episteme di atas menjadi sangat problematis ketika keberadaan agama yang telah melembaga berhadapan langsung dengan episteme lain. Seperti yang dilansir dalam bukunya A. Marconi, Bagaimana Alam Semesta Diciptakan, di sana dijelaskan bahwa  perpindahan ragam episteme seseorang dari logis-indrawi ke daerah logis spekulatif merupakan suatu lompatan alternatif[2] apabila perangkat indra (empirisme) tak sanggup lagi memahami Tuhan. Namun dalam situasi demikian pula seseorang akan  menghadapi tembok atau tirai kebenaran tunggal dan mutlak, yang dirasakan (diindranya) dibatasi oleh apa yang diindra dengan mengesampingkan akal budi, begitu juga kaum rasionalis akan mengesampingkan secara perlahan pada epistem indra, ditambah pula pengetahuan esoterisme yang terlihat merupakan bentuk apologetic terhadap kekecewaan dua bentuk epistem di atas, pada akhirnya keniscayaan relativis gnosis dengan tidak beragama (agnotis) menjadi sangat memungkinkan di sini.

Lihat saja seperti yang dirasakan oleh sebagian kalangan—dalam melihat ada atau tidaknya “Yang Maha Absolut”, menurut mereka hal tersebut menjadi sangat problematis, misalnya saja gerakan Deisme, Faith without religion atau New Age— bahkan menurut Purwanto mereka hadir dalam kekecewaan akan macam agama yang melembaga (instusional) namun percaya akan adanya yang maha Esa, sehingga mereka menolak untuk memeluk agama manapun.[3] Ini adalah sikap skiptik yang hadir kembali dalam memaknai Tuhan yang melembaga.

Di atas merupakan suatu kegelisahan akan memaknai eksistensi Tuhan di era modern oleh sebagian kalangan. Hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian penganut ketika berhadapan dengan ajarannya masing-masing. Dan harus di ingat dewasa ini terdapat banyak para ahli yang mencoba kembali membaca teks agama dengan diverifikasi oleh science begitu pula sebaliknya. Namun jika kita melihat kebelakang ada tradisi epistem—yang tertinggal untuk dikejewantahkan dalam memahami Tuhan era sekarang. Tradisi turun temurun tersebut adalah “Membaca Alam Semesta” dengan cara berkhalwat. Khalwat merupakan cara pengasingan diri dari beragam epistem untuk memaknai eksistensi Tuhan.

Dalam sejarahnya, pengasingan diri atau khalwat yang dilakukan oleh sebagian cendikiawan Arab merupakan buah tradisi dari gerakan al-Hanafiyyah. Gerakan Hanafiyah ini dirasa sebagai gerakan yang tidak tercampur dari gerakan yang marak terjadi waktu itu, seperti pemujaan beragam berhala, praktek riba merajalela, penghalalan arak, zina dan sebagainya.[4] Sebelum Islam datang, peradaban Arab kala itu sangatlah konservatif, fatanatis, nomaden serta glamoris bahkan sangatlah kapitalis. Lihat saja praktek teologi maupun hukum yang digunakan kala itu merupakan sindikat perangkat ajaran yang serba pragmatis.

Tradisi Khalwat atau pengasingan diri Zaman Arab ini ternyata dilakukan pula oleh seorang Pemuka agama sekaligus Rasul di antara para nabi yaitu Muhammad Saw. Bisa dicek dengan riwayat Bukhari dalam juz pertama yang menjelaskan bahwa Nabi sering melakukan khalwat di Gua Hira dan disanalah Beliau bertahanuts.[5] Nabi Muhammad ketika menemukan sesuatu yang benar dengan “Khalwat” (mengasingkan diri). Secara historis pristiwa Nabi Muhammad mendapatkan Wahyu merupakan sebuah prestasi besar dalam tahun-tahun berikutnya, terbukti dengan beragam komentar dalam perjalanan hidupnya untuk mendapatkan sesuatu Yang Maha Benar. Pristiwa tersebut dinamakan dengan Malam Kemuliaan atau Keagungan (Lailatul Qodar).[6]

Lailatul Qodar dinamakan pula sebagai “Malam Kemuliaan” atau “Keagungan” karena malam tersebut merupakan malam diturunkannya kitab suci yaitu al-Qur’an.[7] Malam tersebut juga meruapakan suatu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan.[8]Dalam (studi Qur’an) Ulumul Qur’an—pristiwa besar ini (nuzul al-Qur’an) tepat terjadinya pristiwa tersebut terdapat banyak pendapat. Namun Ibn ‘Abbas dan Jumhur cendikiawan sepakat kejadian tersebut terjadi bertepatan dengan bulan Ramadhan, dimana Nabi bertahannuts di gua Hira sekaligus menerima wahyu berupa surat al-‘Allaq: ayat 1-5. Ringkasnya nuzulul qur’an merupakan sejarah pertama kali diturunkannya al-Qur’an sebagai petunjuk kebenaran sekaligus hidayah bagi seluruh umat manusia. Dan pristiwa tersebut menurut Ibnu ‘Abbas dan Jumhur mengatakan, “Allah menurunkan Al Qur’an secara utuh sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah yang ada di langit dunia. Kemudian Allah menurunkan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad- tersebut secara berangsur-angsur selama 23 tahun.[9]

Ada yang terpenting dalam sejarah diturunkannya al-Qur’an kepada Muhammad yang hingga kita masih relevan dengan perdebatan sengit mengenai ragam epistem dasar beragama, yaitu bahwa proses mendapatkan kebenaran melalui metodelogi khalwat (pengasingan diri) di Gua Hira dan yang kedua adalah substansi dari surat al-‘Allaq: ayat 1 sampai 5. Selain Ragam episteme di atas, ternyata ada ragam episteme agama yang harus di alami oleh manusia selain metode empirism maupun rasional-analitis, yaitu khalwat. Keberadaan khalwat merupakan jembatan untuk merenungi episteme rasionalitas berhadapan dengan empiris dalam memahami yang maha benar. Karena pada saat yang sama, dua model episteme dalam bangunan di atas merupakan jembatan jurang pemisah dalam memahami agama, sebab seperti yang dijelaskan di atas bahwa rasionalisme lebih menekankan analisis kompleks akal sedangkan empirisme lebih mengandalkan tingkatan pengetahuan dari indrawi.

Kedua hal itu tersebut tak-akan bersekutu manakala proses penyatuannya tanpa melibatkan “cara Khalwat” (pengasingan diri), sebab dari sanalah kita bisa melepaskan seluruh pengetahuan yang dapat dari rasionalitas kesimpulan—maupun empiris pengetahuan. Ketika proses khalwat dilakukan secara bersamaan, maka proses verifikasi hasil perenungan atau pengasingan akan diuji kembali, yaitu dengan cara Membaca alam semesta dengan mempergunakan seluruh alat yang kita punyai. Hal ini menjadi dasar bahwa kerangka berifikir kita yang selalu menghasilkan keraguan dalam beberapa hal. Oleh sebab itu selain Muhammad melakukan khalwat tetapi beliau pula dibekali oleh Tuhan dengan disuruh “Membaca alam semesta”, kenapa karena pada waktu itu nabi sebagai seorang yang Ummii (tak bisa baca maupun menulis) maka seyogyanya Tuhan menyuruh nabi untuk menemukan kebesaran dan kebenaran-Nya adalah dengan cara membaca alam semesta. Kenapa objek yang dibaca yaitu alam semesta bukan al-Qur’an, karena pada waktu itu al-Qur’an belum diturunkan sekaligus ke dunia serta belum dibukukan (kodifikasi), jadi alam semesta menjadi objek penelitian Nabi untuk ditelaah lebih lanjut. Surat al-‘Allaq ayat 1-5 juga  memberikan gambaran kepada kita  selain membaca alam semesta sekaligus merenungkan alam semesta lewat science maupun teknologi pendukung lain. Dan yang kedua memaknai sejumlah proses penciptaan alam semesta akan memunculkan suatu kebenaran, dan terakhir makna dari surat al-‘Allaq yang diturunkan pada malam nuzulul qur’an yaitu Tuhan akan mengajarkan kepada manusia melalui beragam peralatan baik membaca maupun menulis untuk mengetahui hakikatnya.





[1] Komarudiin Hidayat dan M. Wahyudi N, Agama Masa Depan, (Jakarta: Grammedia Pustaka Utama, 2003), hal. 84
[2]A. Marconi, Bagaimana Alam Semesta Diciptakan, (Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, 2003), hal. XV
[3] Purwanto Abd al-Ghaffar, Tuhan Yang Menentramkan Bukan Yang Menggelisahkan, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2005), hal. 18
[4] Khalil Abdul Karim, Syari’ah: sejarah perkelahian pemaknaan, (Yogyakarta: LKIS, 2003), hal. 15-17
[5] Lihat lebih lengkap redaksi haditsnya dalam kitab Muhammad Bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukharii, (al-Azhar: Daar al-Bayan al-‘Arabi, 1426 H/2005), Juz I, hal. 4. Lihat pula Khalil Abdul Karim, Syari’ah: sejarah perkelahian pemaknaan, (Yogyakarta: LKIS, 2003), hal. 8

[6] Mahmud Syaltut, al-Fatawa, (tp: Daar al-Qolam. Th), hal.  154
[7] QS. Al-Baqarah: 185
[8] QS. Al-Qodar: 3
[9] Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahits fii Ulum al-Qur’an, edisi terjemahan Drs. Mudzakir, (Jakarta: PT. Pustaka Litera Antarnusa, 1996), hal. 151