Translate

Makna Dibalik Kegagalan

Kata “Gagal” seringkali diartikan peyoratif/negatif, tak ayal balutan serta bungkusan yang menyelimuti kita ditopang dengan beragam cara. Apapun itu, yang penting kita jauh dengan kata “gagal”. Namun apa makna dibalik kegagalan...

Bukan Mengelola Waktu, Tetapi Mengelola Energi

Saat ini mengelola waktu menjadi tren tersendiri dari kita. Bahkan hidup di era digital seperti ini, mengelola waktu bukan saja menjadi prioritas utama tetapi lebih dari itu. Namun banyak dari kita yang hidupnya mati-matian untuk mengelola waktu tetapi...

Implikasi Putusan Praperadilan Kasus BG, Bukti Nyata Hukum Indonesia Tak Jelas

Pasca putusan praperadilan perkara penetapan kasus tersangka BG yang diajukan oleh KPK dalam kasus korupsi, opini pun berhembus seperti terpecah belah dua dalam dunia hukum. Di tambah lagi beragam opini.....

Adonis, Sastrawan Arab Paling Kritis

Adonis merupakan penyair Arab yang paling berpengaruh di abad ke-20. Karya sastra modernisnya sangat berpengaruh terhadap dampak budaya Arab.....

Lintasan Sejarah Komunisme di Dunia Islam

Persinggungan antara komunisme di barat maupun di wilayah timur, terkhusus di Dunia Islam terdapat titik persamaan konseptual yaitu menolak terhadap kolonialisme barat. Seperti yang kita ketahui, hampir rata-rata di dunia Islam paruh abad 18-19-an, telah terjadi pergeseran antar ideologi.

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Monday, 5 December 2016

2 Desember Hari Penghapusan Perbudakan Internasional

Sejak bergulirnya kasus dugaan penistaan agama yang dialamatkan kepada Ahok, pemerintah Jokowi-JK seolah mendapat tekanan publik untuk ikut berperan aktif dalam melakukan pengawalan atas kasus tersebut. Bahkan tak tanggung-tanggung, pasca demo 4 November 2016 lalu, ekspresi tersebut diperlihatkan Pemerintah dengan sibuk melakukan konsolidasi kepada organisasi keagamaan, partai politik maupun tokoh lainnya. Alasannya sederhana, karena ingin mendapatkan masukan dari berbagai pihak atas intervensi kasus yang melibatkan banyak publik bersuara. Namun sangat disayangkan, dari November hingga Desember 2016 seolah fokus pemerintah tersedot menghadapi tekanan etis publik ditambah lagi dengan adanya gelaran atau doa bersama pada Jum’at 2 Desember 2016 lalu. Kesibukan ini terlihat mulai dari Satpol PP, Kepolisian, TNI, Kejaksaan dan Kementerian/Lembaga (K/L) atau SKPD Pemda Daerah lainya—habis terkuras energinya untuk menuntaskan persoalan ini.

Menurut saya terlalu berlebihan jika stakeholder super sibuk pada kasus tersebut. Bahkan terlintas dalam pikiran saya, apakah tidak ada persoalan lain yang begitu penting di negara ini sehingga bangsa ini amat terfokus terhadap gerakan “212 Desember”. Padahal moment 2 Desember merupakan hari yang paling penting untuk diingat selain ada gerakan 212 itu, yaitu hari Penghapusan Perbudakan Internasional yang diperingati setiap tanggal 2 Desember. 

Di mana dari perbudakanlah inilah manusia-manusia yang terbelenggu menjadi manusia yang merdeka. Apakah pemerintah Indonesia tidak ikut serta menghapuskan isu perbudakan modern, apakah isu ini terlalu sudah basi? Atau memang hanya sebatas katastrofa para pejabat/politisi untuk mendaur ulang jika ada persoalan yang publik ramai dibicarakan. Padahal, seperti yang dikutip Kompas, bahwa sebanyak 21 juta orang, termasuk sebanyak lima juta anak kecil, di seluruh dunia terjebak dalam perbudakan temporer, kata Kantor Komisaris Urusan Hak Asasi Manusia PBB, Senin (28/11/2016).

Perbudakan modern sungguh sangat luas, bahkan bukan hanya sekedar di wilayah kelas sosial manusia, tetapi lebih dari itu. Ini berarti perbudakan masih terus ada bukan hanya pada zaman silam, tetapi hingga kini. Kasus perdangan manusia, organ tubuh perempuan, budak seks, dan sejenisnya masih berkeliaran di negeri ini. Belum lagi kasus perbudakan di wilayah tenaga kerja, seolah menjadi daftar kelam masalah perbudakan belum selesai. Perbudakan bukan milik masa lalu tapi kenyataan kejam pada zaman kita, ini menampilkan luasnya perbudakan zaman modern.

Mantan Sekjen PBB, Ban Ki-Moon pernah berkata ketika memperingati Hari Penghapusan Perbudakan Internasional yang selalu jatuh pada 2 Desember 2015 lalu. Menurutnya, perbudakan masih eksis dengan berbagai bentuk. Berabad-abad lalu, negara-negara kolonial menjadikan orang-orang Afrika sebagai budak untuk dibawa dan diperjualbelikan, sampai akhirnya dipekerjakan secara tidak manusiawi. “Mereka mengalami kekerasan yang mengerikan, termasuk perbudakan seksual dan reproduktif, prostitusi secara paksa, pelecehan seksual yang berulang, serta pemaksaan untuk melahirkan anak demi penjualan anak,” tambahnya. 

Namun meski Hari Penghapusan Perbudakan Internasional sudah ditetapkan sejak 2 Desember 1986, perbudakan itu sendiri masih eksis dalam beberapa bentuk. Sebut saja buruh paksa, perdagangan manusia, hingga eksploitasi seksual. “Praktek itu adalah kejahatan terburuk dan aib pada sejarah umat manusia. Praktek-praktek (perbudakan modern) itu takkan eksis tanpa rasisme mendalam. Lebih lanjut menurutnya,  “Pada hari peringatan (Penghapusan Perbudakan) ini, saya menyerukan pembaruan komitmen kita untuk mengakhiri perbudakan modern, agar anak-anak kita bisa hidup di dunia tanpa rasisme dan prasangka dengan kesempatan dan hak yang sama untuk semua,” tandasnya.
Pernyataan Ban Kimon tahun lalu seolah menjadi peringatan keras untuk jadi pelajran Pemerintah Indoensia pada  saat ini, menjelang peringatan detik-detik hari Penghapusan Perbudakan, kita masih saja berpolemik dengan sangkaan isu sensitifitas agama dan ras/etnis. Sangat disayangkan dan disedihkan, hari ini kita terlalu sibuk dengan hal yang seharusnya kita lewati dengan keberagaman dan kedamaian sesuai asas bangsa “Bhinneka Tunggal Ika”

Pelajaran berharga lainnya seharusnya pemerintah melihat pola perbudakan modern di Indonesia seperti dalam kasus Buruh, PRT, Perdagangan Manusia, Perbudakan Seksual, dan isu-isu perbudakan lainnya, menjadi prioritas Pemerintah untuk memastikan bangsa Indonesia bermartabat dan merdeka yang sesungguhnya. Pemerintah Jokowi-JK seharusnya lebih sibuk dengan program seperti peningkatan kapasitas ekonomi, pemberdayaan manusia, perlidungan hukum dan yang lebih spesifik pada persoalan bangsa. Seperti dalam kasus kekerasan seksual yang hingga kini semakin akut. Bahkan pemerintah-DPR hinga kini sibuk seperti pemadam kebakaran, hanya melihat riakan respon aktual, bukan respon komprehensif.

Hal itu terlihat dalam kasus kasus kekerasan seksual pada bulan-bulan lalu, puncaknya ketika kasus YY, EN dan yang lainya menjadi isu publik. Setelah itu, Pemerintah-DPR beramai-ramai berbondong-bondong komitmen untuk membahas persoalan kekerasan seksual menjadi prolegnas prioritas, hasilnya adalah dengan mengesahkan Perpu Kebiri (UU Perlidungan Anak), tetapi RUU Penghapusan Kekerasan Seksual hanya dibicarakan di wilayah forum akademisi saja. Padahal antara UU Perlindungan Anak dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual berbeda. Namun sama-sama urgen dan perlu mendapat perhatian. 

BahkanRUU Penghapusan Kekerasan Seksual beserta Naskah Akademis telah diserahkan Komnas Perempuan dan FPL kepada DPR RI. RUU Penghapusan Kekerasan Seksual mengatur komprehensif sejak pencegahan, pelaporan, penegakan hukum dan pemulihan korban yang melibatkan berbagai sektor sehingga peran lintas komisi diantaranya Komisi III, Komisi VIII dan Komisi IX sebagai Pansus dalam pembahasan menjadi strategis dan urgent.

Apakah masih kurang sebanyak 321.752 kasus kekerasan seksual untuk membuka mata para stakeholders. Ataukah pemerintah-DPR menunggu ada kasusnya terulang kembali,seperti perbudakan  seks  seorang  anak  perempuan  oleh  ayah mertua di Tapanuli Selatan,belum lagi kasus perbudakan dan eksploitasi hingga mengakibatkan kematian dan hilangnya sejumlah PRT di Medan serta kasus penyekapan PRT di Bogor, Bintaro dan Tangerang Selatan. Hanya dengan kata “Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sebagai upaya bentuk penghapusan terhadap perbudakan seksual di Indonesia,  merupakan  langkah pasti pemerintah dalam memaknai hari Penghapusan PerbudakanInternasional 2 Desember.

*Salam Pecinta Kesederhanaan.

Friday, 10 April 2015

Biografi Ahmadinejad: Figur Tokoh Sederhana

Gambar AhmadinejaOleh Dina Y. Sulaeman


Siapa yang tidak kenal dengan Ahmadinejad, seorang tokoh pemimpin dunia yang religous dari Iran ini menjadi perhatian dunia ketika pemilihan presiden Juni 2005 dimenangkan olehnya. Ahmadinejad dikenal sebagai tokoh presiden tegas dan sederhana sekaligus kontroversial dari beberapa kebijakan serta kritik terhadap pihak yang menentangnya.

Ahmadinejad awalnya bukan siapa-siapa, nama Ahmadinejad baru muncul dan menjadi pembicaraan ketika ia berhasil menyingkirkan beberpa kandidat presiden, dan ia menjadi pemenang kedua setelah Rafsanjani. Karena tak satu pun kandidat memperoleh lebih dari 50% suara, putaran kedua pemilu pun kembali digelar. Saat itu, orang masih memandang Ahmadinejad sebalah mata. Selain itu juga Ahmadinejad dikenal dekat dengan seorang tokoh konservatif yaitu para mullah.

Jauh sebelum itu, siapa sih sebetulnya Ahmadinejad? Dari manakah dia berasal? Apa yang istimewa dari perjalanan biografinya—hingga saat ini masih didengung-dengungkan dengan sebutan mantan presiden yang cerdas dan sederhana.

Mahmud Ahmadinejad atau yang biasa disebut dengan Ahmadinejad saja, dilahirkan di daerah yang sepi dan terpencil yaitu Aradan, tepatnya pada 28 Oktober 1956. Sebetulnya nama asli dari Ahmadinejad sendiri berasal dari ketertarikan ayahnya (Ahmad Saborjihan) agar kelak namanya seperti artinya yaitu ras yang unggul, bijak dan paripurna. Sedangkan nama lamanya yaitu Mahmud Saborjihan, jika diartikan dalam bahasa persia berarti pelukis karpet. Dari kota kecil dan sepit ujung utara padang garam inilah lahir seorang pemimpin sederhana.

Ahmadinejad merupakan anak keempat dari ketujuh bersaudara. Ia dilahirkan dari keluarga sederhana, hingga pada akhirnya mempengaruhi pola aktivitasnya dalam menjalankan roda kepemimpinan sebagai presiden Iran kala itu. Bahkan seperti yang dikutip dalam buku Kasra Naji berjudul “Ahmadinejad: Kisah Rahasia Sang Pemimpin Radikal Iran”, menjelaskan bahwa rumah masa kanak-kanak pertama dari Ahmadinejad merupakan rumah kontrakan sederhana, seperti lantai berbahan bata dan turap dari lumpur. Bekas rumahnya tersebut itu digunakan oleh penghuni sekarang sebagai kandang ayam (Kasra Naji: Gramedia Pustaka Utama, 2009, h. 4).

Kehidupan ketika menjadi presiden pun tak jauh berbeda dari masa kanak-kananya. Rumah dinas yang dipakainya pun bukan rumah dinas dari pemberian fasilitas negara, tetapi rumah pribadi beserta istri dan ketiga anaknya. Sejak saat itulah rumah tersebut terasa sempit, karena selain ditinggali sang istri dan anaknya, tetapi rumah dari gang buntu tersebut dijadikan ruang kerja sang presiden. Rumah tersebut juga memiliki ruangan seluas 6 x 10 sebagai ruang tamu presiden. (Sayyid Maulana Khan, “Ahmadinejad The Lion from Aradan”: Mizan, 2007, h. 23)

Meski masa kecilnya serba kekurangan, namun tidak menyulutkan niat Ahmadinejad menjadi seorang yang cerdas sekaligus religous. Dalam bidang bahasa, ia menguasai empat bahasa sekaligus, yaitu Arab, Persia, Inggris dan Prancis. Ia juga lulusan dari sebuah Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) dengan gelar doktor dalam bidang teknik dan perencanaan lalu lintas dan transportas. Ia pernah juga menjadi seorang guru ngaji atau buka kursus baca al-Qur;an, padahal dia tidak dilahirkan dari keluarga yang pandai baca al-Qur’an (Kasra Naji: Gramedia Pustaka Utama, 2009, h. 4-5).  

Jauh sebelum Ahmadinejad menjadi seorang pemimpin terkemuka, kehidupan sederhana Ahmadinejad sebetulnya diinsiprasi oleh sang ayah. Perjuangan hidupnya telah diperlihatkan sejak Ahmadinejad kecil. Pada tahun 1958 setelah kelahiran dua tahun Ahmadinejad, ayahnya membawa keluarga dari Aradan ke Narmak. Tujuannya sendiri tak lain agar kehidupan keluarga menjadi semakin membaik dengan mencari pekerjaan di sana. (Kasra Naji: Gramedia Pustaka Utama, 2009, h. 4-5).  

Dari daerah Narmak-lah ayah Ahmadinejad memulai kehidupan yang baru dan terencana. Di sanalah ayah Ahmadinejad membuka sebuah bengkel pandai besi. Hingga pada akhirnya, kerja keras sang ayah terbayarkan, karena bisa membeli sebuah rumah bata dengan dua lantai sederhana. Pada waktu itu Narmak menjadi daerah berkembang, suasananya tidak seperti ayah Ahmadinejad pindah pertama kali.

Berlanjut pada tahun berikutnya, sekitar tahun 1960-an, Ahmadinejad mulai bersekolah di Narmak, kira-kira bersamaan dengan stagnasi kisruh pemerintah dengan ulama Syiah di Qom. Selang beberapa tahun, terjadi pristiwa politik yang berujung pada revolusi Islam pada tahun 1979. Sebetulnya  Ayatullah R. Khomeni yang menjadi promotor pergerakan tersebut untuk melancarkan pertentangan kebijakan modern yang dilakukan oleh Shah. Yang pada akhirnya, satu dekade setelahnya menghantarkan Ahmadinejad menjadi seorang presiden revolusioner.

Beberapa catatan penting kesederhanaan dari Ahmadinejad yaitu ketika menjadi Walikota Taheran tahun 2005, ia juga sekaligus menjadi petugas kebersihan, tak jarang ia sering membersihkan kotoran diselokan, memagang sapu dan lain-lain—layaknya sebagai petugas kebersihhan dengan mengenakkan pakaian kebersihan. Jas yang digunakan untuk bekerja sebagai presiden pun ia beli di toko-toko negerinya sendiri. Berkisar harga 50-70 $. Begitu juga dengan sepatu yang dipakainya, berdasarkan pengakuan dari seorang teman dekatnya, sepatu yang dipakai oleh Ahmadinejad merupakan sepatu butut, bahkan ketika ia setelah 2-3 hari dari pemilu Presiden dengan kemenangannya, ia tetap saja memakai sepatu usang yang dipakainya sejak kuliah. Ahmadinejad juga dikenal seorang penikmat kurma yang murah (merk kurma Goerge W. Bush), berbeda dengan pemimpin-pemimpin lainnya. Bahkan ada yang lebih unik dari kesederhanaan Ahmadinejad yaitu jamuan mnimuman tamu presiden hanya limun, dan ketika menjadi walokota dilarang menyediakan pisang kepada tamunya, karena terlalu mahal menurutnya. Aktivitas kesederhanaan seorang pemimpij Ahmadinejad sangat banyak dan sulit digambarkan di sini, bahkan ia menjadi salah satu nominator World Mayor 2005 sebelum menjadi presiden pun.

Ada yang menarik dari nilai filosofi kesederhanaan Ahmadinejad yaitu: Saya lahir dari keluarga miskin di desa terpencil yang menganggap kemakmuran sama dengan kehormatan dan tinggal di kota besar sama dengan kemewahan duniawi. (Kasra Naji: Gramedia Pustaka Utama, 2009, h. 1).  Lanjut Ahmadinejad dalam buku lain: Kenapa saya harus merasakan kenyamanan kalau rakyat di sekitar saya merasa kepanasan. (Maulana Khan, “Ahmadinejad The Lion from Aradan”: Mizan, 2007, h. 21).


***Salam Kesederhanaan.....

Tuesday, 13 January 2015

Fundamentalisme Yahudi


Istilah fundamentalisme menurut Dictionary of Israeli – Palestinian Conflict, diartikan sebagai: a literal adherence to the tenets of a religion or belief system; fundamentalism also implies an opposition to all development or evolution in religion. On the level of political doctrine, fundamentalism favors an intransigent conservatism. [1] Sebuah ketaatan terhadap prinsip sebuah agama atau sistem kepercayaan, dan secara implisit fundamentalisme merupakan respon perlawanan terhadap semua bentuk kemajuan atau perubahan dalam sebuah agama. Di level doktrin politik, fundamentalisme menyukai pemahaman konservatif-keras.

Lebih teoritis lagi, menurut Marty dan Appleby, sebagai gerakan, fundamentalisme dan fundamentalis, ditandai oleh sikap yang melawan atau berjuang (fight). Di antaranya adalah melawan kembali (fight back) kelompok yang mengancam keberadaan mereka atau identitas yang menjadi taruhan hidup. Mereka berjuang untuk (fight for) menegakan cita-cita yang mencakup persoalan hidup secara umum, seperti keluarga atau institusi social lain. Kaum fundamentalis juga berjuang dengan (fight with) kerangkan nilai atau identitas tertentu yang diambil dari warisan masa lalu maupun konstruksi baru. Mereka juga berjuang melawan (fight against) musuh-musuh tertentu yang dipandang menyimpang. Terkahir kaum fundamentalis juga dicirikan oleh perjuangan atau nama (fight under)  Tuhan atau ide-ide lain.[2]

Dari sejarahnya fundamentalisme merujuk pada gerakan Protestan Amerika awal abad ke-20 yang menyerukan agama kembali kepada penafsran injil secara harfiah.[3] A.M Hendroprino  menyatakan bahwa Fundamentalisme merupakan fenomena global yang dapat ditemui di semua agama besar di dunia. Fundamentalisme tidak menunjukan katakana-katakana agama tetapi lebih merupakan pandangan dunia sosio-politik yakni masalah yang menyangkut watak Negara, masyarakat, dan politik dunia. Sebagian ahli yang mengatakan bahwa beberapa agama besar dunia sejak semula mempunyai ambisi terhadap aturan sosial-chauvinistik dan sistem eksklusif terhadap negara-bangsa. Untuk menjawab semua itu, di bawah ini catatan penting mengenai karateristik Fundamentalisme Yahudi.
***
Jika kita telusuri lebih dalam, Istilah “Fundamentalisme Yahudi” memiliki persamaan dan perbedaan dari makna Fundamentalis Kristen. Secara implisit perbedaan keduanya yaitu pendustaan terhadap teks-teks Alkitab atau Talmud tertentu,[4] lebih jelasnya Fundamentalis Yahudi percaya bahwa Alkitab itu sendiri tidak mempunyai kewenangan kecuali ditafsirkan dengan benar melalui literatur Talmud.[5] Bisa dikatakan Fundamentalisme Yahudi di sini didefinisikan sebagai keyakinan terhadap Yahudi Ortodoks, yang didasarkan pada Talmud Babilonia, serta pemahaman literatur Talmud dan sastra halachic yang masih berlaku. Keberadaan Fundamentalis Yahudi tidak hanya ada di Israel tetapi di setiap negara yang memiliki akses komunitas Yahudi yang cukup. Gerakan fundamentalis yang sangat mencolok yaitu keinginan pembangunan kembali tempat ibadah di Yerusalem. Fundamentalisme Yahudi tidak hanya mampu mempengaruhi kebijakan Israel konvensional tapi bisa juga secara substansial, seperti mempengaruhi kebijakan nuklir Israel. Kemungkinan konsekuensi yang sama fundamentalisme ditakuti oleh banyak orang untuk negara-negara lain.[6]

Jauh sebelum itu, dalam perjalananya, abad ke-XIX di Eropa, gerakan Zionisme- memberikan kontribusi lain yaitu menciptakan tanah air bagi orang Yahudi di Palestina, tanah dari mana mereka telah didorong oleh orang Romawi hampir dua ribu tahun sebelumnya. Diaspora Yahudi meratapi kehancuran Yerusalem dan mereka berdoa setiap hari agar kelak Mesias (sang juru selamat) mengembalikan kekuasaan Yahudi di tanah Israel. Semua ini, menurut tradisi Yahudi akan dicapai oleh Allah pada waktu yang dipilih. Awal mula pergerakan ini merupakan bagian kelompok radikal-intelektual, yang sebelumnya Zionis dikutuk oleh para pemimpin Yahudi utama untuk mencoba untuk memaksa tangan Allah melalui tindakan politik. Namun, ledakan kekerasan anti-Semitisme di seluruh Eropa pada 1870-an memberikan kepercayaan sekaligus mengklaim bahwa orang Yahudi membutuhkan tanah mereka sendiri, dan hal itu telah memberikan legitimasi pada gerakan Zionisme yang sebelumnya tidak dimiliki.

Kepercayaan fundamental ajaran zionisme ini juga  dimaknai sebelumnya sebagai pemahaman akan pemaknaan akan Bukit Zion yang menempati kedudukan penting dalam agama Yahudi, karena menurut Taurat versinya, “Al-Masih yang dijanjikan akan menuntun kaum Yahudi memasuki ‘Tanah yang Dijanjikan’. Dan Al-Masih akan memerintah dari atas puncak bukit Zion”. Zion dikemudian hari diidentikkan dengan kota suci Jerusalem itu sendiri. Bisa dikatakan bahwa akar dari Fundamentalisme Yahudi merupakan faham yang lahir keyakinan zion di Palestina, dimana tanah tersebut merupakan satu-satunya yang dihadirkan bagi anak-anak Tuhan. Yahudi menjadi klan yang dijanjikan sebagai pembawa perubahan dan berhak atas tanah yang dijanjikan terse but. Ide inilah yang merupakan cikal bakal lahirnya Negara Israel di Palestina.[7]

Sebagai gerakan afiliasi terhadap penafsiran sebuah kitab, Zionis diperluas dan menjadi matang pergerakannya, namun pada akhirnya gerakan ini terpecah menjadi tiga aliran pemikiran, yaitu:[8] Pertama, Zionis religius yang menganut dan percaya bahwa kembali ke Israel adalah bagian dari rencana keseluruhan Allah bagi orang-orang Yahudi.  Kedua, Zionisme tenaga kerja yang tumbuh dari akar sosialis Eropa, dan yang, sementara itu tidak menolak unsur agama, jauh lebih tertarik pada pertumbuhan ekonomi dan organisasi. Ketiga Zionisme sekuler, di mana aliran rasionalis ini berusaha untuk menciptakan sebuah negara Yahudi yang demokratis tanpa peraturan agama atau ornamen.

Ketika negara Israel dibentuk pada tahun 1948, tiga aliran ini terus mendapat ketegangan dan perpecahan di antara penduduk Yahudi sendiri. Bagi kelompok Zionisme Buruh yang merupakan aliran terbesar saat itu, mereka tidak cukup kuat untuk melakukan regulasi pemerintahan yang tanpa kompromi dan penciptaan koalisi. Dengan demikian pesaing uatama Partai Buruh yaitu sekuler. Akibatnya partai-partai keagamaan yang lebih kecil adalah pilihan koalisi murni. Dalam rangka menciptakan pemerintah koalisi pada tahun 1948, Partai Buruh terpaksa memberlakukan unsur-unsur tertentu dari hukum Yahudi ortodoks, yaitu:[9] a) Ketaatan publik terhadap semua hari libur Yahudi dan hari Sabat; b) Menghormati hukum halal di instansi pemerintah; c) Pembiayaan publik untuk sekolah agama; dan d) Ketaatan pernikahan dan perceraian pada hukum ortodoks

Ditambah lagi dengan aturan tahun 1950, yang menyatakan bahwa setiap orang Yahudi di seluruh dunia memiliki hak untuk datang ke Israel dan mencapai kewarganegaraan. Tindakan ini memiliki dampak yang sangat besar pada fundamentalisme Yahudi karena mereka membentuk dasar bagi identitas Yahudi religius bukan sekadar identitas wilayah atau etnis. Agama Yahudi ortodoks, meskipun minoritas di Israel, tetapi spririt serta sikap kerasnya telah menyumbangkan di dunia politik Israel, dan hal itu secara simultan mendorong kepatuhan yang lebih besar agar hukum Taurat menjadi bagian dari koalisi hukum yang berkuasa. Pemicu Masalah fundamentalisme Yahudi berakar pada Perang Enam Hari pada bulan Juni 1967. Dalam kemenangan menakjubkan Israel merebut semenanjung Sinai dan Jalur Gaza dari Mesir, Dataran Tinggi Golan dari Suriah, dan Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, dari Yordania. Dari semua penaklukan tersebut, hal itu membawa tidak hanya lahan yang luas dan besar, populasi Arab vis a vis di bawah kontrol Israel, hal itu juga yang menyebabkan perseteruaan bagi kaum arab da telah menimbulkan kesulitan besar bagi pemerintah Israel. Meminjam bahasanya Adele Ferdows dan Paul Weber, Berapa banyak tanah harus itu ditinggali? Haruskah Yahudi diizinkan untuk menetap di tanah yang ditaklukkan? Dari pertanyaan-pertanyaan ini lahir kemudian fundamentalisme Yahudi kontemporer.

Banyak Zionis religius memaknai kemenangan Israel sebagai pembenaran keyakinan mereka, yang mana hal itu buah upaya rencana Tuhan Sementara yang lain, baik negeri Israel sendiri maupun masyarakat internasional percaya bahwa orang-orang Yahudi sekarang dalam posisi untuk perdagangan tanah ditangkap (termasuk tempat-tempat suci dan beberapa daerah kecil yang dianggap perlu untuk keamanan nasional) untuk jaminan perdamaian, Zionis religius membuat retensi isu tanah yang berkaitan dengan ajaran dasar agama, dan itu tidak mungkin ada kompromi dan tidak ada konsesi. Mereka bergabung untuk pertama kalinya, kelompok nasionalis, sekuler dan militan serta bersikeras untuk memblokir setiap upaya pemerintah untuk bernegosiasi.

Sebuah strategi utama dengan cepat dikembangkan untuk mendirikan pemukiman Yahudi di wilayah penduduk, khususnya Tepi Barat, dalam rangka merrebut kembali tanah bagi pemerintah. Pada tahun 1974 upaya ini menyebabkan pembentukan Gerakan Gush Emunim, atau 'Blokir Mukminin', sebuah gerakan religio-politik fundamentalis yang baik secara legal maupun ilegal mengembangkan pemukiman baru yang mereka menentang pemerintah untuk meruntuhkan. Yang kedua sebuah strategi lebih tidak menyenangkan untuk mengganggu dan mengusir orang-orang Arab yang menolak untuk menjual tanah mereka untuk pemukiman ini. Diperparah pada tahun 1977 kemenangan menakjubkan dari sayap kanan Partai Likuid, yang dipimpin oleh Menachem Begin, atas Partai Buruh, mengakibatkan pemerintah koalisi secara signifikan lebih bersimpati kepada tujuan Gush Emunim, dan permukiman Yahudi di wilayah-wilayah pendudukan cepat meluas. Menurut salah satu otoritas, Gush Emunim 'kurang lebih sengaja mendorong pelecehan warga Palestina di tepi Barat dalam rangka menciptakan ketegangan dan meningkatkan keengganan Israel untuk menarik diri dari daerah. Jika ini memang strategi mereka, mereka pasti berhasil. Salah satu hasilnya yaitu mengubah iklim politik sehingga sejumlah partai keagamaan baru fundamentalis muncul, termasuk Morasha dan Kach, yang terakhir kelompok kekerasan rawan yang diselenggarakan oleh mantan Amerika Meir Kahane dengan tujuan yang dinyatakan mengusir semua orang Arab Palestina dari tanah menaklukkan.

Sementara kelompok-kelompok ini tetap menjadi minoritas kecil di Israel, kemunculan mereka telah menambahkan dukungan untuk Gush Emunim dan gerakan pemukiman. Sekarang tidak mungkin bahwa setiap pemerintah Israel memaksa untuk melakukan agar membongkar pemukiman atau menarik militer dari wilayah yang diduduki. Antara pengusiran dan pelecehan oleh kelompok-kelompok fundamentalis yahudi mendapatkan ledakan protes dari sebuah gerakan atau yang biasa disebut 'intifada'. Di mana lebih dari satu juta orang Arab, hampir dari semuanya meyakinkan bahwa tidak ada koesistensi damai akan berujud di masa mendatang. Hasil ketiga adalah erosi lebih lanjut dari dukungan untuk Israel di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat dan Inggris. Fundamentalisme Yahudi tetap kuat, kekuatan militan dalam politik Israel. Apakah kebijakan mereka akan menghasilkan reaksi antara warga Israel dan penurunan berikutnya masih harus dilihat. Itu tidak terjadi pada akhir 1991. Hanya satu hal tampaknya pasti: apakah itu diwujudkan dalam Islam, Kristen, tradisi agama Yahudi atau lainnya, fundamentalisme tetap menjadi kekuatan politik yang terbatas namun tetap ampuh dan tidak akan menghilang dalam waktu dekat.

***
Jika mecermati gerakan fundamentalisme yahudi di atas, ada beberapa catatan penting untuk dikaji lebih lanjut. Pertama, Kekurang-mampuan orang Yahudi dalam memahami demokrasi. Watak orang Yahudi terbentuk oleh budaya dan agamanya cenderung otoriter. Demokrasi barangkali baik bagi orang lain, tetapi bagi orang Yahudi dimana pun ia berada, ia akan mendirikan suatu masyarakat aristokrasi atau sejenisnya (periksa tentang: ajaran Qabala). Demokrasi oleh orang Yahudi digunakan hanyalah sebagai alat, sekedar buah kata, yang digunakan oleh para juru-bicara Yahudi sekedar sebagai suatu mekanisme perlindungan kelompok (‘defence mechanism’) di tempat-tempat dimana mereka ditindas, serta untuk mendapatkan status persamaan; begitu telah mencapai kedudukan dan status yang sama, mereka segera berusaha mendapatkan privilese, hak-hak istimewa, yang seolah-olah telah menjadi hak mereka – seperti pada ‘Konperensi Perdamaian’ Versailes 1918 – menjadi contoh yang mengagetkan banyak orang. Kaum Yahudi sekarang ini adalah satu-satunya masyarakat dimana hak-hak khusus dan privilese yang dicantumkan khusus bagi mereka dituliskan di dalam ‘perjanjian-perjanjian’ dunia (teks aseli hak-hak istimewa bagi orang Yahudi dalam perjanjian Perdamaian Versailes 1918 dipublikasikan pada bulan Juli 1920; harap dirujuk juga kepada hak-hak khusu dan privilese istimewa Israel dalam resolusi-resolusi PBB).

Kedua, Terhadap sikap anti-Yahudi, ada tiga penyebab yang biasanya dijadikan mereka sebagai argumen : 1. prasangka keagamaan, 2. prasangka ekonomi, 3.antipati sosial. Masalahnya apakah kaum Yahudi itu menyadari atau tidak, bahwa bagi orang non-Yahudi, Yudaisme itu dipandang sebagai salah satu “agama wahyu” bersama-sama dengan Kristen dan Islam. Prasangka yang ada lebih banyak bersumber dari sebab non-keagamaan soal kecemburuan ekonomi barangkali memang ada. Sudah bukan rahasia lagi keuangan dunia itu ada dalam genggaman para bankir Yahudi; keputusan dan kebijaksanaan mereka menjadi hukum ekonomi-keuangan bagi dunia barat. Kecemburuan ekonomi mungkin dapat menjelaskan sebagai salah satu sebab dari timbulnya sikap anti-Yahudi; tetapi isa juga kecemburuan ekonomi yang menimbulkan “masalah Yahudi” itu merupakan unsur kecil dari suatu problema yang lebih besar. Sedangkan antipati-sosial di masyarakat Barat yang berkulit putih dan Kristen – beban antipati itu di Barat bukan hanya dipikul oleh orang Yahudi, tetapi juga oleh orang kulit hitam, orang Cina, orang muslim, serta komunitas lain di dunia ini, yang jumlah mereka justru lebih banyak daripada orang Yahudi. Orang Yahudi itu tidak pernah menyebut-nyebut politik sebagai penyebabnya, atau jika mereka nyaris keseleo lidah yang bernada sugestif ke arah itu, mereka segera membatasinya, atau melokalisasinya. Unsur politik yang inheren melekat pada masyarakat Yahudi, dimana saja mereka itu berada mereka senantiasa akan membentuk semacam “negara” sendiri di dalam negara tuan-rumah. Ketertutupan sikap masyarakat Yahudi yang lebih mengutamakan hubungan internal diantara mereka sendiri, menjadi salah satu penyebab utama yang menimbulkan sikap anti Yahudi.


[1] Thomson Gale, Dictionary of Israeli – Palestinian Conflict, (USA: Macmillan, 2005), hal. 129
[2] Dikutip dari Tarmizi Taher, Dkk, Radkalisme Agam, (Jakarta: PPIM-IAIN Jakarta, 1998), hal. xix
[3] Roxanne L. Euben, Musuh dalam Cermin: Fundamentalisme Islam dan Batas Rasionalisme Modern,(Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2002),hal. 41
[4] Adele Ferdows dan Paul Weber, Fundamentalism, dalam Encyclopedia of Government and Politics, edited by Mary Hawkesworth and Maurice Kogan, Vol. I-II, (New York: Routledge, 1992),  hal. 189
[5] Israel Shahak dan Norton M, Jews Fundamentalism in Israeli, (Tt: Pluto Press, 1999), hal. 11
[6] Israel Shahak dan NortonM,  Jews Fundamentalism in Israeli, (Tt: Pluto Press, 1999), hal. 11
[7] Zainal Azhar Maulani, dalam Zionisme Gerakan Menaklukan Dunia, ___________,
[8] Adele Ferdows dan Paul Weber, Fundamentalism, dalam Encyclopedia of Government and Politics, edited by Mary Hawkesworth and Maurice Kogan, Vol. I-II, (New York: Routledge, 1992),  hal. 189
[9]Adele Ferdows dan Paul Weber, Fundamentalism, dalam Encyclopedia of Government and Politics, edited by Mary Hawkesworth and Maurice Kogan, Vol. I-II, (New York: Routledge, 1992),  hal. 189-190

Monday, 22 December 2014

Lintasan Sejarah Komunisme di Dunia Islam

Komunisme  merupakan salah satu ideologi di dunia. Penganut paham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manifesto politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848 teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam dunia politik.

Komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap paham kapitalisme di awal abad ke-19, dalam suasana yang menganggap bahwa kaum buruh dan pekerja tani hanyalah bagian dari produksi dan yang lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, muncul beberapa faksi internal dalam komunisme antara penganut komunis teori dan komunis revolusioner yang masing-masing mempunyai teori dan cara perjuangan yang berbeda dalam pencapaian masyarakat sosialis untuk menuju dengan apa yang disebutnya sebagai masyarakat utopia.

Setelah membaca dari sedikit literatur, telah terjadi persinggungan antara komunisme di barat maupun di wilayah timur, terkhusus di Dunia Islam. Terlebih lagi ada beberapa titik persamaan konseptual antara komunis dengan spirit penganut muslim yang menolak terhadap kolonialisme barat. Seperti yang kita ketahui, hampir rata-rata di dunia Islam paruh abad 18-19-an, telah terjadi pergeseran antar ideologi, dan pada akhirnya kolonialisme barat mengeskpansi seluruh kekuasaanya di negara-negara Timur Tengah-Asia. Namun pergolakan antara kolonialisme, komunisme dalam dunia Islam tetap menjadi catatan tersendiri. Ada yang berkolaborasi, namun ada juga yang menolak mentah-mentah konsepsi komunisme. Pada edisi diskursus kali ini, penulis akan bahas dengan judul “lintasan sejarah komunisme dalam dunia Islam”.

*****
Antara komunisme dan Islam—telah menimbulkan solusi pada tatanan sosial, moral, ekonomi dan politik. Meski begitu, perbedaan mereka tetap banyak dan mendasar. Gerakan komunis telah dikembangkan di seluruh dunia Islam, tetapi mereka dibatasi pada basis sosial sempit, dan sebagian sering mengubah menjadi non muslim. Kelompok komunis menjadi sangat terlibat dengan memperdebatkan alasan teoritis Marxisme-Leninisme untuk kegagalan ini untuk mendapatkan dukungan massa. Perdebatan ini lebih terfragmentasi gerakan komunis di dunia Islam. Komunisme di Timur Tengah tidak pernah menjadi pesaing serius bagi kekuasaan, dan runtuhnya Uni Soviet tersisih komunisme di seluruh dunia.

Ulama Islam mengkritisi komunisme di beberapa bagian. Terutama, komunisme menolak keberadaan Tuhan. Dengan demikian, hal ini secara langsung bertentangan dengan Islam dan keimanan. Selanjutnya, Islam memandang sejarah dengan cara yang berbeda daripada komunisme. Dalam dialektika komunis dan gerakan sejarah dari kapitalisme ke komunisme, Islam memandang sejarah sebagai pencarian iman dan kebenaran. Sejarah perkembangan masyarakat berakhir ketika Islam diterima, bukan ketika kapitalisme tersapu oleh komunisme. Akhirnya, dalam mencari keadilan sosial, Islam tidak berusaha untuk membuat semua orang sama; ia menerima bahwa beberapa akan memiliki lebih dari yang lain. Islam mencapai keadilan sosial melalui penerimaan kewajiban mereka dengan lebih untuk menyediakan mereka yang kurang, melalui proses seperti zakat (sedekah).

Sebelum Perang Dunia Kedua, gerakan komunis di Timur Tengah terdiri dari kelompok-kelompok kecil intelektual, yang tertarik pada sikap antikolonialnya. Lingkungan pasca-perang, dengan ekspansi Soviet dan runtuhnya kekuasaan kolonial, pada awalnya dianggap oleh sebagian besar komunis sebagai kesempatan untuk mencapai massanya. Dukungan Soviet untuk kelompok-kelompok ini tidak otomatis. Perang Dingin melihat Uni Soviet menghadapi kebijakan yang sering kontradiktif mendukung gerakan revolusioner komunis dan mendukung pemerintah selaras dengan kepentingan Soviet. Misalnya, dukungan kepada pemerintah Mesir di bawah Jamal  Abd al-Nasser amat berharga untuk kepentingan Soviet, namun bertentangan dengan menangani kebutuhan Partai Komunis Mesir. Dalam kasus lain, seperti Iran, Soviet memberikan dukungan Klandestin ke komunis. Sementara itu, di bawah Doktrin Eisenhower, Amerika Serikat membentuk pertentangannya terhadap gerakan komunis di Timur Tengah. Berdasarkan doktrin ini, Amerika Serikat campur tangan terhadap militer di Lebanon pada tahun 1958, dan mereka membentuk Pakta Baghdad dalam mengadapi ekspansionisme Soviet. Baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet sepenuhnya memahami kekuatan pendorong dari daerah, seperti yang ditunjukkan masing-masing di Iran dan Afghanistan di akhir 1970-an.

Di Mesir, Palestina, dan Lebanon pada tahun 1920, secara baik para intelektual mendirikan partai komunis atau kelompok politik sosialis. Setelah Perang Dunia Kedua, Partai Komunis Suriah, yang telah menarik dukungannya dari Kurdi dan minoritas partai lainnya, telah tumbuh beberapa hal penting pada tahun 1950, akan tetapi mereka tidak pernah menjadi pesaing serius bagi kekuasaan. Partai Komunis Lebanon telah dilarang hingga tahun 1970, dan mereka tidak pernah mendapatkan lebih dari 1000 anggota partisipan. Partai Komunis Mesir berbagi pandangan mengenai konsep antikolonial terhadap Nasser, tapi dia melarang partai dan para pemimpinnya dipenjarakan menyusul kudeta 1952 terhadapnya. Sejak saat itu, komunisme di Mesir telah diwakili oleh sejumlah kelompok sempalan kecil.

Di Iran, setelah Perang Dunia Pertama, gerakan komunis utama yang dikembangkan di Iran, di mana kontak langsung dengan komunis Rusia lebih tepatnya di Azerbaijan, dan ha itu menghasilkan pembentukan sebuah partai Adalat pada 1917. Dan tahun 1920, Ferqehye menjadi Komunis di Iran. Sekitar tahun 1929 kemudian dilarang. Setelah itu dibangun kembali sebagai dengan nama Partai Tudeh pada tahun 1941. Hal ini pun terus dilarang pada tahun 1949, dan anehnya terus berkembang dalam gerakan bawah tanah, terutama para anggota partai yang terdiri dari kaum intelektual, perwira militer, dan elite lainnya. Pasca penggulingan Mohammad Mosaddeq (1953), pemerintah Iran mengambil tindakan tegas terhadap Tudeh dan Partai hancur. Serpihan unsur komunis terus aktif di Iran hingga akhir 1970-an, dan telah memainkan perannya dalam Revolusi Islam 1979. Kelompok-kelompok ini dihilangkan atau diusir dari Iran seperti para pemuka yang berkonsolidasi kekuasaan.

Partai Komunis Irak atau yang biasa disebut dengan ICP—yang didirikan pada tahun 1934 telah memainkan peran tidak sesuai dalam dunia politik Irak. Dimulai dengan keikutsertaannya dalam gerakan kemerdekaan melawan Inggris. Penggulingan kerajaan Hashemit pada tahun 1958 membawa partai untuk kepentingan nasional. ICP dimobilisasi demonstran seperempat juta terhadap upaya kudeta konservatif pada tahun 1959, dan memiliki milisi bersenjata sendiri. Saingan partai ini adalah Partai Ba'ath, sekuler, gerakan sosialis yang mengemban persatuan dan anticolonialisme Arab, langsung terjun ke dalam konflik dengan ICP setelah merebut kekuasaan pada tahun 1963, dan dengan cepat melampaui pengaruh. Pada tahun 1974, semua partai-partai oposisi, termasuk ICP, dikonsolidasikan ke dalam Front Nasional Progresif (PNF), yang memungkinkan Baath untuk tegas mengontrol gerakan oposisi. Dari tahun 1978 sampai 1979, pemerintah telah menangkap dan banyak mengeksekusi pemimpin ICP, sementara yang lain melarikan diri ke luar negeri.

Hanya satu dari negara Timur Tengah yaitu Republik Rakyat Yaman, telah memiliki pemerintahan Marxis. Sementara koloni Inggris sebagai gerakan kemerdekaan fundamental yang dikembangkan dengan dukungan oleh Soviet. Setelah kemerdekaan pada tahun 1967, Front Pembebasan Nasional Sovietfunded, sebuah kelompok Marxis, mengambil dan memegang kendali kekuasaan. Barisan depat partai cheos oleh gerakan faksionalisme, dan dengan cepat menjadi lebih ideologis dan represif. Untuk mengalihkan perbedaan pendapat populer, Front berjuang dalam pertempuran dengan negara tetangga yaitu Oman, Arab Saudi, dan Yaman Utara. Ketika Uni Soviet runtuh, Yaman Selatan tidak lagi menerima bantuan Soviet, dan tak lama upaya untuk menggabungkan Utara dan Yaman Selatan di bawah pemerintah non-communist tunggal secara resmi berhasil pada tahun 1990, meskipun wabah kerusuhan masih terjadi di daerah-daerah.

Akhir 1960-an melihat kebangkitan gerakan komunis sempalan di kalangan mahasiswa dan intelektual, sebagai Maoisme dan Guevarism menjadi populer. Gerakan-gerakan ini tidak memiliki daya tarik massa yang signifikan, tetapi karena kecenderungan kekerasan kelompok, mereka memiliki beberapa dampak politik pemerintah berusaha untuk mengendalikan mereka. Beberapa kelompok Palestina diserap ideologi ini dan penekanan mereka pada kekerasan dan revolusi. Gerakan untuk Pembebasan Palestina atau yang disingkat PFLP, Gerakan Demokratik untuk Pembebasan Palestina (DFLP), dan Gerakan Populer untuk Pembebasan Palestina-Komando Umum (PFLP-GC) semua gabungan Marxis-Leninisme dengan nasionalisme Palestina. Di berbagai negara, penganut ideologi komunis revolusioner ini tidak lebih dari beberapa ratus penganut saja, dan ini sering terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok dengan ideologi radikal. Dan berbeda sekali dengan gerakan komunis di Indonesia.

****
Gerakan komunis dalam dunia Islam di Indonesia juga tak jauh berbeda pergolakannya. Gerakan komunis di Indonesia  meski dikatakan cukup berhasil dalam menyusupi pergerakan Islam, namun dalam perjalanannya telah terjadi dari berbagai tantangan, baik dengan kaum agamawan maupun angkatan darat. Jauh sebelum itu, kehadiran Komunisme di Indonesia bermula merupakan sebuah perkumpulan sosialis Belanda yang dimotori oleh Henk Sneevliet dan para penganut Sosialis Hindia lainnya—pada dasarnya membentuk tenaga kerja di pelabuhan pada tahun 1914, dibawah nama Indies Social Democratic Association atau dalam bahasa Belanda: Indische Sociaal Democratische Vereeniging - ISDV ). Dan ISDV dibentuk oleh 85 anggota dari dua partai sosialis Belanda, SDAP dan Partai Sosialis Belanda yang kemudian menjadi SDP komunis, yang berada dalam kepemimpinan Hindia Belanda. Di sana, para anggota Belanda dari ISDV memperkenalkan ide-ide Marxis untuk mengedukasi orang-orang Indonesia mencari cara untuk menentang kekuasaan kolonial kal itu. Dengan cirri khas prinsip dasar komunis yang anti kolonialisme dan anti kapitalisme menjadikan proses akulturasi dalam masyarakat Islam di Indonesia menjadi tak terelakan. Terlebih pada waktu itu banyak dari pribumi anti hindia-belanda beragamakan Islam.

Beberapa tahun kemudian, pada Kongres ISDV di Semarang  sekitar bulan Mei 1920), nama organisasi ini diubah menjadi Perserikatan Komunis di Hindia (PKH). Semaun adalah ketua partai dan Darsono menjabat sebagai wakil ketua. Salah satu fakta menarik ketika pengaruh komunis masuk dalam Sarekat Islam sekitar tahun 1916-1920an. Di mana serikat Islam pada waktu mendapatkan spirit dari konseptual semangat Marxist dan teori tentang teori-teori kapitalis—telah mempercepat semangat perjuangan untuk mendapatkan kesempatan dan bertanggung jawab terhadap lintas ekonomi. Seperti yang yang dikatakan Abdul Karim, teori Marxist itu diinterpretasikan sedemikian rupa oleh Sarekat Islam, sehingga yang kontradiksi dikesampingkan, sedangkan ajaran Marxist yang mendukung perjuangan Serikat Islam dipergunakan untuk menghantam kapitalis.

Secara sadar atau tidak, SI (Sarekat Islam) dalam kerjasama dengan komunis untuk mencapai tujuan dan maksud, Serikat Islam telah kesusupan pemikiran dari politik komunis yang diperjuangkan oleh Samaun dan Darsono. Hal tersebut menyebabkan perpecahan dalam tubuh partai pada tahun 1921. Seperti yang dikemukakan oleh Deliar Noer:

“Komunisme telah mengguncangkan tubuh partai Sarekat Islamyang telah mengambil Islam sebagai dasar bagi kesatuan mereka. Dasar ini telah memberikan para pengikut Sarekat Islam, terutuma mereka yang kurang merasa terikat pada agama, suatu alternatif untuk memilih kebijaksanaan yang akan diturut. Loyalitas anggota-anggota ini kepada parta menjadi menipis, dan oleh sebab kesatuan di dalam Sarekat Islam menjadi lemah. Malahan sebelum perpecahan di dalam Sarekat Islam pada tahun 1921 dapat dikatakan telah terbelah dua, terdiri dari mereka pro komunis dan yang anit komunis.”

 Sekitar tahun 1927an Sarekat Islam secara resmi merubah anggaran dasarnya untuk memisahkan diri dari kelompok PKI, dan hal itu disarasakan kekecewaanya oleh Samaun dan Darsono selaku pejuang komunis terhadap sarekat. Dan kemudian para pendulum mengalihkan perhatiannya untuk mempelajari dengan cara yang lain. Dorongan lain dari gerakan Islam terhadap kemerdekaan dan perjuangan untuk mengusir penjajahan, mereka sering mendapat buku-buku dan majalah-majalah dari Mesir sehingga mereka dapat berpendirian tegas. Tetapi menghadapi infiltrasi Komunis ini mereka harus menggali sendiri, karena negara-negara Islam yang lain belum banyak memperoleh ide komunis. Namun demikian ide komunis terhadap anti imperalisme dan kapitalisme serta perjuangan untuk membela golongan kelas, kelihatannya mempunyai paralelisme dengan perjuangqan Sarekat Islam. Tak dipungkiri pula pada akhirnya komunisme kemudian pasca kemerdekaan mendapatkan suaranya yang keras dari partai lainnya. Terlebih ketika partai berbasis agama seperti Masyumi mengalami keruntuhan.

Dan pada akhirnya setelah kemerdekaan berlalu, kemudian politik yang dimainkan pemerintah (Soekarno) kala itu mendapat kecaman dan tantangan keras, guna meredam kepanikan yang lebih parah, usaha untuk mengembalikan landasan kepada pancasila dan UUD 1945 secara legitimate diserahkan kepada Jenderal Soeharto menerima surat perintah 11 Maret 1966. Namun secara bertahap hal itu menjadi awal mula titik pertumbuhan regim orde baru. Dan komunisme secara resmi dilarang sejak itu dengan TAP MPRS XXV/1966. Dam para anggota maupun simpatisan komunis di adili.

****
Dari lintasan sejarah komunisme dengan dunia Islam, bisa diktakan Model perjuangan kelas dari komunis mendapat banyak simpati dari kalangan, umat Islam meskipun pada akhirnya terjadi pertentangan-pertentangan secara fundamental, dan hal itu menjadi titik perbedaan signifikan perjuangan komunisme dan perjuangan masyarakat muslim di beberapa wilayah. Memobilisasi kaum proletar, bisa dikatakan gagal di Timur Tengah. Upaya oleh beberapa komunis untuk beradaptasi dengan prinsip fundamental mapun kondisi dan tempat, telah gagal karena kekakuan ideologi kepemimpinan komunis. Faktor-faktor lain termasuk penindasan gerakan komunis oleh hampir dari semua pemerintah daerah, pertikaian ideologis dan faksionalisme antara komunis, dan ketersediaan struktur sosial dan ekonomi alternatif yang puas bagi sebagian kalangan menjadi hal lain lagi. Runtuhnya Uni Soviet meninggalkan sebagian komunis lanjut terisolasi dari opini publik.

Rujukan Komprehensif

Batatu, Hana. The Old Social Classes and the Revolutionary Movements in Iraq: A Study of Iraq’s Old Landed and Commercial Classes and of its Communists, Ba’thists and Free Officers. Princeton: Princeton University Press, 1978.

Cottam, Richard W. Nationalism in Iran. Pittsburgh: University of Pittsburgh Press, 1979.

Ismael, Tareq , and el-Sa’id,  Rifa’at. The Communist Movement in Egypt, 1920–1988. Syracuse: Syracuse University Press, 1990.

Ed. Richard C. Martin, Encyclopedia of Islam and the Muslim World. New York: Macmillan Reference USA. 2004

Karim, M. Abdul. Islam dan Kemerdekaan Indonesia: Membongkar Marjinalisasi Peran Islam dalam Perjuangan Kemerdekaan. Yogyakarta: Sumbangsih Press Yogyakarta. 2005

Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES. 1980